8 April 2015

artikel: Jangan panggil aku bodoh!


Setelah sekian lama gak nulis karena terlalu sibuk membenahi anggaran dasar pengeluaran negara dan ikut serta dalam perdamaian dunia akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke hobby lamaku ini. 

Langsung aja kali ya, ke topik yang ingin aku bahas.

Entah apa hanya aku mahluk aneh di dunia ini yang gak mau dipanggil bodoh padahal juga sendirinya gak pintar? :D

Ini kejadian yang gak akan pernah aku lupa, sewaktu sekolah dulu aku pernah dipanggil bodoh oleh guru berulang-ulang kali dan sadisnya teman-temanku mengikuti, karena saat pengambilan nilai untuk mata pelajaran biologi, diantara puluhan temaku di kelas, hanya aku yang mendapatkan nilai terendah dan tidak lulus. Iya, hanya aku. Aku memang “lemah” di mata pelajaran ini dan selalu mendapat nilai kecil.
Aku dijadikan bulan-bulanan karena aku sendiri yang tidak bisa mengeksekusi soal-soal dengan baik. Aku terus-terusan dibilang bodoh berhari-hari sampai hari-hari berikutnya. Drop? Iya. Tapi aku cuek, stay cool dan tersenyum cantik. (Curiga setelah baca tulisan yang ditebalkan kalian pada mual dan gak mau lanjut baca)

Selang beberapa hari berikutnya, kami mengambil nilai untuk mata pelajaran fisika, mata pelajaran yang paling aku senangi, dan aku mendapat nilai paling tinggi. Mungkin gurunya khilaf waktu mengkoreksi punyaku. Hari itu juga pada mata pelajaran seni, kami disuruh membuat prakarya yang unik dari daun, kertas, terserah yang ada dilingkungan sekolah. Lagi-lagi aku mendapat nilai paling tinggi. Aku masih berpikiran kalau guruku khilaf memberi nilai.

Seusai istrahat, kami kembali masuk kelas dan teman-temanku yang dari kemarin bekoar-koar meneriakan namaku “Suci si bodoh” mendatangiku dan minta diajarkan PR fisika yang diberikan oleh guru. Aku menarik napas berat agak panjang, kuembuskan perlahan dan menghela, lalu menatap mereka satu-persatu sambil bilang “KALAU AKU JADI KALIAN SIH MALU, YA, MASA’ MINTA DIAJARIN SAMA ORANG BODOH” Wajah mereka merah padam, menahan marah sambil ngedumel “Dasar pelit”. Tapi aku cuek, stay cool dan tersenyum cantik. (maaf kalau membuat kalian mual untuk kedua kalinya)

Cerita di atas hanyalah “intro” untuk bagian “reffrain” yang ingin aku bahas secara singkat, padat, tepat, dan tidak jelas, loh (?)

Aku suka senyam senyum sendiri kalau dengar orang terlebih lagi ibu-ibu yang bilang bodoh sama anaknya karena anaknya jatuh dibeberapa mata pelajaran di sekolah. Dan, terkadang kita juga suka latah, pada saat pembagian rapot, yang dilihat berkali-kali adalah yang mendapatkan angka merah (nilai dibawah stadar kelulusan). Cotoh, matematika 5, Bahasa Indonesia 9. Yang mati-matian difokuskan  adalah angka 5 dengan berbagai cara: les, memberi puluhan soal matematika sebagai latihan sampai wajahnya si anak mirip jajar genjang agar maksimal, mendatangkan guru private terbaik bahkan saat tidur pun si anak harus mengiggau rumus sin cos.  Lalu mengabaikan angka 9, Yang siapa tahu memang di situ kemampuan maksimal si anak, dan siapa tahu juga apabila dibimbing dan diasah bukan tidak mungkin si anak akan menjadi “sesuatu” dalam sejarah dunia sastra Indonesia bahkan dunia. Siapa tahu!

Itu adalah sedikit ceritaku yang aku sambung-sambungkan dalam pembahasan ini. Kita tidak bisa menyebut seseorang bodoh hanya karena satu kegagalan di mata pelajaran tertentu. Seperti pendapatnya Prof. Dr. Horward Gardner yang memetakan sembilan kecerdasan manusia. Penjelasannya bisa kalian baca lebih lanjut di sini www.kesah.com/2012/07/9-macam-kecerdasan-menurut-howard.html?m=1
Selain itu, di sini aku mengaitkan juga dengan teori dari Om Roger W. Sperry (manggil OM biar terkesan akrab) yang menemukan teori lateralisasi pemungsian otak kanan dan otak kiri. Baca sedikit penjelasannya di sini https://fs-galery.blogspot.com/2012/02/teori-otak-kanan-dan-otak-kiri.html?m=1  dan di sini https://m.facebook.com/notes/caecilia-pipit-syalom-sumpeno/anak-dengan-otak-kanan-ciri-ciri-dan-cara-membantunya-dalam-belajar/878856582129676

Menurutku, menurutku loh, ya. Keduanya teori ini berkaitan erat, sangat erat. Apa mungkin zaman dulu Om Horward dan Om Roger mempunyai nasib yang sama, sering dibully, lalu mereka berteman, saling menguatkan, bangkit dan muncul kepermukaan untuk menjadi pahlawan bagi anak-anak yang tertindas karena sebutan “bodoh, bego, tolol, buyan, lolo, bengak nian kau ni”. (Eh, keluar bahasa kerajaan).

Ya, tapi begitulah hal ini jarang sekali kita perhatikan, padahal sedikit banyaknya juga akan berdampak pada si anak. Ini bukan hanya di dunia pendidikan saja, di dunia kerja juga bisa jadi. Dari atasan pada bawahan, sesama karyawan. Hanya saja aku fokus di awal perkembangan anak. Bila korban bully adalah anak yang bermental lemah bisa jadi itu akan membuatnya drop, menganggap pelajaran tertentu (yang tidak disukai/lemah dalam pelajaran itu) menjadi momok yang terus menghantui siang dan malam, tidak mau sekolah karena takut dengan ejekan teman atau guru, kemampuan yang harusnya diasah dan dikembangkan tapi karena tidak diperhatikan akhirnya terkubur, dan dampak-dampak lainya. Sepele? Bagiku tidak. Karena ini bisa jadi terbawa sampai ke masa depan si anak.

Intelegensi setiap individu berbeda-beda. Oleh karena itu, kita perlu mengenal dengan baik bidang apa kecerdasan yang kita miliki. Misalnya, orang tua berasumsi bahwa anak pintar adalah yang menguasai ilmu pasti. Maka dari itu, si anak harus masuk jurusan ilmu alam. Padahal, si anak lebih ingin dan mampu di bidang sosial. Akhirnya si anak merasa salah jurusan, salah langkah, setelah lulus mendapatkan pekerjaan yang bukan menjadi kecintaannya sehingga tidak memberikan keprofesionalan yang maksimal. Mindset inilah yang harus dibenahi. Kecerdasan tidak hanya dipengaruhi prestasi akademik, tapi minat, kemampuan dan bakat seseorang juga. Agar di kemudian hari si anak tidak menjadi “mahluk laut yang harus hidup di darat”.

Sebagai orang yang pernah menjadi korban bullying, aku menyarankan korban-korban lain agar bermental baja dan maksimalkan kecerdasan lain yang kita miliki. Biarkan orang fokus pada emas dan menyepelekan batu, tanpa sadar batu yang diasah kemungkinan adalah berlian.

Bisa jadi kalian lemah di matematika tapi di bidang musik kalian selalu juara, atau fisika kalian mendapat angka 8 yang dipangkas setengah badan tetapi saat mata pelajaran seni menggambar/melukis, hasil lukisan kalian sebanding dengan karya Michel Agelo Buonarroti dan Pablo Ruiz Picasso. Jangan minder, tunjukkan siapa kalian! Cieeee.

Tuhan menciptakan kita karena alasan tertentu dan tidak untuk jadi pecundang hanya karena cerdas atau tidak cerdas di mata manusia. Kita terlahir untuk menang. Seperti aku yang terlahir jadi juara, ini foto masa kecilku saat menjadi juara di bidang olahraga renang.
  






Sekian dan terima uang!


Note:
buyan, lolo, bengak (bahasa daerah Palembang yang artinya sama dengan bodoh)
bengak nian kau ni! (bahasa daerah Palembang yang artinya bodoh sekali kamu ini!)
sumber gambar: google














2 komentar:

Unknown mengatakan...

Kereennnn lucuuu ciii

Unknown mengatakan...

Keren uciiiiii haha