Setelah
sekian lama gak nulis karena terlalu sibuk membenahi anggaran dasar pengeluaran
negara dan ikut serta dalam perdamaian dunia akhirnya aku memutuskan untuk
kembali ke hobby lamaku ini.
Langsung
aja kali ya, ke topik yang ingin aku bahas.
Entah
apa hanya aku mahluk aneh di dunia ini yang gak mau dipanggil bodoh padahal
juga sendirinya gak pintar? :D
Ini
kejadian yang gak akan pernah aku lupa, sewaktu sekolah dulu aku pernah
dipanggil bodoh oleh guru berulang-ulang kali dan sadisnya teman-temanku
mengikuti, karena saat pengambilan nilai untuk mata pelajaran biologi, diantara
puluhan temaku di kelas, hanya aku yang mendapatkan nilai terendah dan tidak
lulus. Iya, hanya aku. Aku memang “lemah” di mata pelajaran ini dan selalu
mendapat nilai kecil.
Aku
dijadikan bulan-bulanan karena aku sendiri yang tidak bisa mengeksekusi
soal-soal dengan baik. Aku terus-terusan dibilang bodoh berhari-hari sampai
hari-hari berikutnya. Drop? Iya. Tapi aku cuek, stay cool dan tersenyum
cantik. (Curiga setelah baca tulisan yang ditebalkan kalian pada mual dan gak
mau lanjut baca)
Selang
beberapa hari berikutnya, kami mengambil nilai untuk mata pelajaran fisika,
mata pelajaran yang paling aku senangi, dan aku mendapat nilai paling tinggi.
Mungkin gurunya khilaf waktu mengkoreksi punyaku. Hari itu juga pada mata
pelajaran seni, kami disuruh membuat prakarya yang unik dari daun, kertas,
terserah yang ada dilingkungan sekolah. Lagi-lagi aku mendapat nilai paling
tinggi. Aku masih berpikiran kalau guruku khilaf memberi nilai.
Seusai
istrahat, kami kembali masuk kelas dan teman-temanku yang dari kemarin
bekoar-koar meneriakan namaku “Suci si bodoh” mendatangiku dan minta diajarkan
PR fisika yang diberikan oleh guru. Aku menarik napas berat agak panjang,
kuembuskan perlahan dan menghela, lalu menatap mereka satu-persatu sambil
bilang “KALAU AKU JADI KALIAN SIH MALU, YA, MASA’ MINTA DIAJARIN SAMA ORANG
BODOH” Wajah mereka merah padam, menahan marah sambil ngedumel “Dasar pelit”. Tapi aku cuek, stay cool dan tersenyum
cantik. (maaf kalau membuat kalian mual untuk kedua kalinya)
Cerita
di atas hanyalah “intro” untuk bagian “reffrain” yang ingin aku bahas secara
singkat, padat, tepat, dan tidak jelas, loh (?)
Aku
suka senyam senyum sendiri kalau dengar orang terlebih lagi ibu-ibu yang bilang
bodoh sama anaknya karena anaknya jatuh dibeberapa mata pelajaran di sekolah.
Dan, terkadang kita juga suka latah, pada saat pembagian rapot, yang dilihat
berkali-kali adalah yang mendapatkan angka merah (nilai dibawah stadar
kelulusan). Cotoh, matematika 5, Bahasa Indonesia 9. Yang mati-matian
difokuskan adalah angka 5 dengan
berbagai cara: les, memberi puluhan soal matematika sebagai latihan sampai wajahnya
si anak mirip jajar genjang agar maksimal, mendatangkan guru private terbaik
bahkan saat tidur pun si anak harus mengiggau rumus sin cos. Lalu mengabaikan angka 9, Yang siapa tahu
memang di situ kemampuan maksimal si anak, dan siapa tahu juga apabila
dibimbing dan diasah bukan tidak mungkin si anak akan menjadi “sesuatu” dalam
sejarah dunia sastra Indonesia bahkan dunia. Siapa tahu!
Itu
adalah sedikit ceritaku yang aku sambung-sambungkan dalam pembahasan ini. Kita
tidak bisa menyebut seseorang bodoh hanya karena satu kegagalan di mata
pelajaran tertentu. Seperti pendapatnya Prof. Dr. Horward Gardner yang memetakan
sembilan kecerdasan manusia. Penjelasannya bisa kalian baca lebih lanjut di
sini www.kesah.com/2012/07/9-macam-kecerdasan-menurut-howard.html?m=1
Selain
itu, di sini aku mengaitkan juga dengan teori dari Om Roger W. Sperry (manggil
OM biar terkesan akrab) yang menemukan teori lateralisasi pemungsian otak kanan
dan otak kiri. Baca sedikit penjelasannya di sini https://fs-galery.blogspot.com/2012/02/teori-otak-kanan-dan-otak-kiri.html?m=1
dan di sini https://m.facebook.com/notes/caecilia-pipit-syalom-sumpeno/anak-dengan-otak-kanan-ciri-ciri-dan-cara-membantunya-dalam-belajar/878856582129676
Menurutku,
menurutku loh, ya. Keduanya teori ini berkaitan erat, sangat erat. Apa mungkin
zaman dulu Om Horward dan Om Roger mempunyai nasib yang sama, sering dibully,
lalu mereka berteman, saling menguatkan, bangkit dan muncul kepermukaan untuk
menjadi pahlawan bagi anak-anak yang tertindas karena sebutan “bodoh, bego,
tolol, buyan, lolo, bengak nian kau ni”. (Eh, keluar bahasa kerajaan).
Ya,
tapi begitulah hal ini jarang sekali kita perhatikan, padahal sedikit banyaknya
juga akan berdampak pada si anak. Ini bukan hanya di dunia pendidikan saja, di
dunia kerja juga bisa jadi. Dari atasan pada bawahan, sesama karyawan. Hanya
saja aku fokus di awal perkembangan anak. Bila korban bully adalah anak yang
bermental lemah bisa jadi itu akan membuatnya drop, menganggap pelajaran
tertentu (yang tidak disukai/lemah dalam pelajaran itu) menjadi momok yang
terus menghantui siang dan malam, tidak mau sekolah karena takut dengan ejekan
teman atau guru, kemampuan yang harusnya diasah dan dikembangkan tapi karena
tidak diperhatikan akhirnya terkubur, dan dampak-dampak lainya. Sepele? Bagiku
tidak. Karena ini bisa jadi terbawa sampai ke masa depan si anak.
Intelegensi
setiap individu berbeda-beda. Oleh karena itu, kita perlu mengenal dengan baik
bidang apa kecerdasan yang kita miliki. Misalnya, orang tua berasumsi bahwa
anak pintar adalah yang menguasai ilmu pasti. Maka dari itu, si anak harus
masuk jurusan ilmu alam. Padahal, si anak lebih ingin dan mampu di bidang
sosial. Akhirnya si anak merasa salah jurusan, salah langkah, setelah lulus
mendapatkan pekerjaan yang bukan menjadi kecintaannya sehingga tidak memberikan
keprofesionalan yang maksimal. Mindset inilah yang harus dibenahi. Kecerdasan
tidak hanya dipengaruhi prestasi akademik, tapi minat, kemampuan dan bakat
seseorang juga. Agar di kemudian hari si anak tidak menjadi “mahluk laut yang
harus hidup di darat”.
Sebagai
orang yang pernah menjadi korban bullying,
aku menyarankan korban-korban lain agar bermental baja dan maksimalkan kecerdasan
lain yang kita miliki. Biarkan orang fokus pada emas dan menyepelekan batu,
tanpa sadar batu yang diasah kemungkinan adalah berlian.
Bisa
jadi kalian lemah di matematika tapi di bidang musik kalian selalu juara, atau fisika
kalian mendapat angka 8 yang dipangkas setengah badan tetapi saat mata
pelajaran seni menggambar/melukis, hasil lukisan kalian sebanding dengan karya
Michel Agelo Buonarroti dan Pablo Ruiz Picasso. Jangan minder, tunjukkan siapa
kalian! Cieeee.
Tuhan
menciptakan kita karena alasan tertentu dan tidak untuk jadi pecundang hanya
karena cerdas atau tidak cerdas di mata manusia. Kita terlahir untuk menang.
Seperti aku yang terlahir jadi juara, ini foto masa kecilku saat menjadi juara
di bidang olahraga renang.
Sekian dan terima uang!
Note:
buyan, lolo, bengak
(bahasa daerah Palembang yang artinya sama dengan bodoh)
bengak nian kau ni! (bahasa
daerah Palembang yang artinya bodoh sekali kamu ini!)
sumber gambar: google


2 komentar:
Kereennnn lucuuu ciii
Keren uciiiiii haha
Posting Komentar