28 April 2016

Panjang, dan Ini Baru Sebagian

Pagi menyampaikan cerah
Ketika ayam memulai hari
Dan manusia menyiapkan batik terbaik
Pun aku, kusiapkan dandanan seadanya

Waktu mentari hampir menggapai langit
Manusia berkumpul pada satu atap
Kutatap satu persatu kedatangan mereka dari balik jendela

Seorang wanita duduk diam di dekat tempatku berdiri
Sesekali kutangkap rasa gundahnya
Tak lama sebelum aku jadi pemeran utama dan aku beraksi

Waktu langit meneduhi bumi dengan barisan awan
Ketika manusia menatap pada diri
Kugenggam cemas di hati dengan balutan bahagia
Tak lama berselang, Kuikrarkan janji pada Penguasa Kerajaan


Sayang, inilah awal; tengah belum lewat ujung belum sampai.
Namun, kujanjikan, sehebat apapun badai, kita akan bertahan.

Leia Mais…

15 April 2016

Bus Kopaja Jalur Tiga

Hujan deras menemani perjalananku kali ini. Menyandang ransel di sebelah bahu, cepat kunaiki bus yang segera melaju ke tujuannya. Bangku sudut belakang, sebelah kanan.
Denting gitar pengamen separoh baya menuaikan lirik lagu “Andai”nya Gigi.
Neraka, itulah yang kurasa hari ini, karena sesuatu hilang dalam hidupku.
Melempar jangkar memori ke rentang waktu bertepi.
Kala itu,
Masih belia ketika kita bertemu dengan seragam putih-abu.
Masih belia ketika kedekatan kita coba beri makna berbeda.
Dan masih sangat belia ketika kita putuskan untuk jatuh cinta.

***

Pelan bus ini menyusuri jalan Kali Urang, mengangkut setiap penumpang yang tergesa.
Memoriku kembali membentur pada sosokmu.
Masih muda ketika kuartikan pancar wajahmu itu dengan kata “tampan”.
Sangat muda  ketika kutahu ada aliran listrik 1000volt saat menyentuh jarimu.
Dan masih sangat muda ketika kudengar rayuan pertama dalam hidup.
Saat itu, basah kuyup kita di pelataran depan sekolah menanti hujan reda, katamu:
“kau seperti hujan, keindahanmu hanya dapat dirasakan jika seseorang mengenalmu, melihat bagaimana kau dengan ajaib seolah turun dari langit, melihat bagaimana caramu membasahi dedaunan, berinfiltrasi pada tanah, atau menjadi run off, atau berevaporasi setelahnya. Jika aku jadi tanah, aku rela meski pukulan-pukulanmu akan membuatku tererosi.” 

***

Bus berbelok di perempatan ring road, dan aku terbangun sejenak dari rangkai indah masa lalu. Kualihkan pandangaku ke jendela, hujan semakin deras.
Seolah tak ingin lari, segera kususul lagi hayalanku.
Masih muda ketika aku belajar tentang rindu; adalah ketika tak bertemu denganmu walau sehari.
Sangat muda  ketika aku belajar pengorbanan, yaitu ketika diam-diam kabur dari rumah jam delapan malam untuk melihat kota kita dari atas ketinggian lantai enam gedung IP. Memakai kostum bola dan memakai masker, penyamaran idemu waktu itu.
Sungguh aku masih muda ketika dengan sepihak kau bilang kita ‘’tunangan’’, lalu kau pasangkan di jari manisku, sebuah cincin rumput.
Dan masih sangat muda, ketika kita ikrarkan janji tak akan berpisah. Rumput-rumput liar berbunga kuning adalah permadani, kicau burung pipit adalah nyanyiannya, desau angin seolah sorak sorai peri pelindung, dan awan adalah payung kita.

***

Hujan mulai mereda.
Teriakan kondektur bus menyadarkanku bahwa aku telah berada di seputaran Janabadra.
Perempatan lampu merah dengan penjual es degan menggoda.
Aku tergoda, sama sepertimu yang kemudian berpaling pada kembang lain.
Tak tanggung-tanggung, seminggu setelah pernikahanmu baruku tahu.
Tepatnya hari ini, ya hari ini baru kutahu, sayang.
Tapi bus terus melaju, begitu juga hidupku.

***

Turun aku menyandang ranselku, ketika kaki kiriku menapak trotoar terminal Umbul Harjo.
Kuhela napas panjang, sadar bahwa aku telah kehilangan cinta pertama.
Menggigit bibir kupacu langkahku pada bus berikutnya.
Jalur 15, begitu terbaca, JOMBOR di pojok bawah tertera.
Kunaiki bus itu. Duduk di dekat pintu tengah.
Mengikuti tembang “Tentang kita”nya Peterpan yang dinyanyikan pengamen kecil.
Kusapa riang wajahnya dan meminta sebuah lagu.
‘Lagu apa, mbak?’ tukasnya
‘Jambrud, apa ajah terserah” jawabku sambil tersenyum kecil
Kemudian kutemani ia bernyanyi “… Kata mereka nenek sebelah matii waktu ngedenger aku lagi nyanyi
Hatiku mulai hangat.
“Jangan hujan lagi” pintaku sambil menghapus embun di jendela tempatku duduk.

***


Kala hujan menyentuh kulit bumi 
Ia tak hanya membawa butiran air 
Melainkan juga janji-janji yang terlupakan 
Hati-hati yang tertinggalkan 
Kisah-kisah yang terlewatkan 
Lagu-lagu yang tersingkirkan 
Pun maaf-maaf yang tak sempat terucapkan 
Dan kala ia turun, mata-mata yang memandang dari balik jendela tak hanya melihat hujan, 
Melainkan juga hamburan kenangan.

Leia Mais…