24 Agustus 2016

Episode Masa Kecil (2)

Pengalaman yang paling apes itu kejadian waktu SMP.

Waktu itu aku dan teman-teman mau bolos dengan cara loncat pagar. Pagarnya tinggi, jadi harus gantian saling bantu ala panjat pinang.

Lagi seru, tiba-tiba terdengar teriakan pak kepala sekolah dari kejauhan, dan dalam hitungan detik teman-temanku menyelamatkan diri, tinggal aku sendiri yang lagi nongkrong di atas.

Bingung. Loncat ke luar berarti aku bolos sendirian, loncat ke dalam pun berarti tertangkap sendirian. Akhirnya aku loncat ke luar dan lari, selamatlah aku. Setidaknya hari ini, pikirku.

Dan di luar pagar ternyata ada seorang lelaki yang memakai seragam TNI jadul, tengah duduk santai sambil menenteng tas hitam lusuhnya, menyaksikan adegan tarzanku tadi sampai tuntas.

Setelah cengar cengir gak jelas, aku segera menjelma jadi Matt Damon di film Bourne.
Aaaakkkk... kabuuuuuuuur.


Teman, laki-laki itu adalah bapakku.

Leia Mais…

6 Agustus 2016

SO7

Setelah mengawali weeked dengan senam demi menjaga bentuk tubuhku yang tetap menawan, akhirnya aku dan QueenC (sebutan untuk para penggemarku) tepar lalu berguling-guling manja. Sembari berguling-guling inilah terselip obrolan peting gak penting  yang kami bahas, yaitu  seputar pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam lirik lagu Sheila On 7.


Lagu Seberapa Pantas
1 :  Cukup indahkah dirimu untuk slalu kunantikan?
2 :  Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku?
3 :  Mampukah kita bertahan disaat kita jauh?
4 :  Seberapa hebat kau untuk kubanggakan?
5 :  Cukup tangguhkah dirimu untuk slalu 'ku andalkan?
6 :  Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang?           
7 :  Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang?
8 :  Seberapa pantaskah kau untukku tunggu?

Lagu  Bertahan di Sana
9.   Dinda apa kabar kau di sana?                                           
10, Lelahkah menungguku berkelana?
11. Lelahkah menungguku kau di sana? 
12. Bisa bertahankah kau di sana? 

Lagu Itu Aku
13. Apakah kau akan terus begini? 
14. Masihkah ada celah di hatimu yang masih bisa 'ku tuk singgahi?
15. Tahukah lagu yang kau suka?
16. Tahukah bintang yang kau sapa? 
17. Tahukah rumah yang kau tuju? 

Lagu Hari Bersamanya 
18. Akankah aku ulangi merusak harinya? 

Lagu Waktu Yang Tepat Tuk Berpisah
19. Bisakah aku tanpamu? 
20. Sanggupkah aku tanpamu? 

Lagu Berhenti Berharap
21. Kenapa ada derita bila bahagia tercipta? 
22. Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan?

Lagu Bertahan di Sana
23. Dinda apa kabar kau di sana?                                      
24. Lelahkah menungguku berkelana? 
25. Lelahkah menungguku kau di sana? 
26. Bisa bertahankah kau di sana? 
27. Dapatkah engkau slalu menjagaku? 
28. Dan mampukah engkau mempertahankanku?


Lagu Yang Terlewatkan
29. Kemana kau slama ini? 
30. Kenapa baru sekarang kita dipertemukan?



Yak, kurang lebih inilah pertanyaan yang ada dalam lagu-lagu SO7, kalo kurang ya tolong ditambahin, karena kita hanya mendengar lagu yang ada di daftar putra hp, hahaha. Bersamaan dengan postingan  yang aku ketik di malam minggu sambil memantau drama sepasang kekasih yang ribut di depan rumah, aku ingin menyampaikan pesan untuk jodohku yang entah berapa jauh jarak kita sekarang, kita sudah kenal atau belum, kita sudah ....
Pesanku coba baca list no. 4, 5, 6, 7
Jawablah dalam hati jangan lupa sambil senyum.

#YAWLAAAAAAAAAAAAAA

Leia Mais…

27 Juli 2016

Eksekutif, Yudikatif, Legislatif

Di sebuah negara, hiduplah seorang yang sangat kaya raya. Nama orang kaya tersebut adalah Eksekutif. Hartanya sangat melimpah dan kian hari kian bertambah. Kekayaannya menjadikan ia sangat disegani oleh penduduk negeri itu. Namun bukan berarti dengan kekayaannya tersebut dia bisa hidup senang. Setiap hari Eksekutif harus berhati-hati terhadap orang-orang jahat yang ingin mencuri hartanya.

Suatu hari, ketika Eksekutif sedang berangkat kerja, dia dicegat oleh dua orang pencuri. Pencuri yang satu berwajah garang dan yang satunya lagi berwajah manis. Yang berwajah garang bernama Yudikatif dan yang berwajah  manis bernama Legislatif.
Lalu Yudikatif dengan wajah garangnya menggertak Eksekutif dan memintanya menyerahkan harta yang dibawanya. Legislatif sambil menodongkan senjata juga melakukan hal serupa dan memerintahkan Eksekutif agar menyerahkan semua harta kekayaannya. Eksekutif yang sedang terancam tak serta-merta menyerahakan hartanya begitu  saja. Eksekutif tak melawan tapi juga tidak pasrah. Lantas Eksekutif mengusulkan agar hartanya lebih baik dibagi saja. Eksekutif berkata; “Hey maling, daripada kalian mencuri hartaku ini, bagaimmana kalau kita bagi bertiga saja?” Ternyata kedua maling tersebut sepakat dengan usul Eksekutif. Inilah kelebihan kedua maling ini, bisa diajak kompromi, beda dengan maling yang lain.

Setelah usulnya disepakati oleh kedua maling yang ingin merampas hartanya, Eksekutif menyarankan agar sebelum membagi harta tersebut mereka bertiga makan siang terlebih dahulu. Lalu eksekutif berkata; “Hey maling, bagaimana kalau sebelum kita bagi harta ini ada baiknya kita makan siang dulu? Setelah makan baru kita bagi hartanya”. Ternyata kedua maling ini setuju dengan ide Eksekutif. Lalu Eksekutif memberi sejumlah uang kepada maling tersebut untuk membeli makanan. Lalu Legislatif memerintahkan rekannya, Yudikatif, untuk membeli makanan sementara itu Legislatif tetap di tempat untuk menjaga Eksekutif yang kaya raya agar tidak kabur. Lalu berangkatlah Yudikatif ke pasar untuk membeli makanan.

Sembari menunggu Yudikatif pulang dari pasar untuk membeli makanan, Eksekutif dan Legislatif berbincang-bincang satu sama lain. Lalu Ekesekutif punya usul agar hartanya jangan dibagi tiga, tapi cukup berdua saja dengan Legislatif. Eksekutif bertanya; “Hey Legislatif, bagaimana kalau harta ini kita bagi berdua saja?” Legislatif berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan atau usul tersebut. Tak lama kemudian akhirnya Legislatif setuju dengan usul Eksekutif. Tapi Legislatif bingung bagaimana dengan temannya. Lalu ia bertanya pada Eksekutif; “Hey orang kaya, aku setuju dengan usulmu itu tapi bagaimana dengan temanku? Dia pasti tidak sepakat karena juga ingin kebagian harta”. Lalu Eksekutif berkata; Bagaimana kalau temanmu itu kita bunuh saja lalu harta ini kita bagi berdua? Tanpa pikir panjang, Legislatif menyutujui ide Eksekutif. Kemudian mereka mencari kayu besar yang akan dipakai untuk memukul Yudikatif agar dia mati.

Sementara itu, Yudikatif yang sudah selesai membeli makanan di pasar bergegas kembali ke tempat temannya menyandera Eksekutif. Di tengah jalan tiba-tiba pikirannya berubah. Dia tak mau kalau harta tersebut dibagi tiga. Yudikatif mau harta yang sangat banyak tersebut jatuh ke tangannya semua.

Selang berapa waktu, Yudikatif segera menuju tempat penyanderaan. Setibanya di sana, Yudikatif dipukuli oleh Eksekutif dan Legislatif sampai mati. Setelah lelah memukul Yudikatif sampai mati, mereka yang sangat kelaparan memilih untuk makan terlebih dahulu sebelum membagi harta tersebut. Kemudian mereka berdua mengambil makanan yang dibawa pulang oleh Yudikatif. Mereka makan dengan sangat lahap seperti orang rakus.

Dia kembali ke pasar untuk membeli racun. Dalam hatinya berkata; Makanan ini akan kucampur dengan racun lalu kuberikan pada mereka berdua agar mereka mati dan akulah yang akan menguasai harta itu semuanya.

Tak lama berselang, Eksekutif dan Legislatif pun menyusul Yudikatif. Mereka bertiga mati dengan tidak membawa harta apapun ke akhirat.  

Leia Mais…

21 Juni 2016

ceriting: Lord Voldemort

Lord Voldemort adalah seorang yang sangat pintar. Dia terlahir dalam sebuah keluarga sederhana dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarganya. Ibunya adalah seorang penjual jamu keliling di komplek tempat tinggalnya. Ibu voldemort bernama Merope Gaunt. Kalo lagi jual jamu sering disapa Mbok Gaunt. Ayah Voldemort adalah seorang Supir Bajai berpengalaman. Beliau pernah berangkat dari Tangerang ke Hogwartz dengan mengendarai bajaj ketika Voldemord tertinggal kereta saat hendak berangkat ke Hogwarts di tahun pertamanya. Ayah Voldemort bernama Tom Riddle dan dikalangan penarik bajaj sering disapa dengan nama Mas Tom.

Tom Marvolo Riddle adalah nama asli dari Voldemort. Dia sebenarnya adalah seorang anak yang manis, tidak pernah tinggal kelas dan selalu dapat juara kelas di sekolahnya. Voldemort pernah berjualan keripik singkong untuk membantu perekonomian keluarganya.
Sebenarnya, Voldemort tidak berniat menjadi seorang penyihir, dia bercita-cita menjadi anggota DPR. Namun dilarang ayahnya karna takut nanti voldemort korupsi. Karena Doi sering korupsi uang hasil jual keripik di terminal angkot setempat.
  
Setelah lulus SD, ayah Voldemort mengirimnya ke Hogwarts untuk belajar ngetik sepuluh jari. Di tahun pertamanya di Hogwarts, Volde sering ditertawakan teman-temannya karna logat Njawa-nya yang sangat medok. Tapi Albus Dumbledore selaku Headmaster menciptakan suatu ramuan untuk menghilangkan medok Volde. 

Volde pernah jatuh cinta pada seorang murid di Hogwarts yang berasal dari asrama Ravenclaw bernama Srimurdiawati. Keduanya pernah tertangkap mesum oleh Prof. Mc Gonagall saat malam Natal. Tetapi Albus memaklumi  itu karena dia juga pernah muda.

Di Hogwarts, Volde merupakan seorang murid yang sangat cerdas. Ketika Volde beranjak dewasa, beliau mendirikan suatu ORMAS terlarang yang disebut Death Eater ( Pelahap Maut ). Bersama ormasnya ini Volde sering mengadakan demo-demo. Seperti demo di gedung DPR-RI untuk memprotes kenaikan harga BBM, demo kasus Bank Century dan demo kenapa foto dia dan teman-temannya gak pernah di-repost oleh admin pulangpulangganteng. Rencananya, tahun ini Volde akan mendirikan Sebuah Partai Politik untuk Bersaing di Pemilu 2019. 

Voldemort adalah seseorang yang sederhana, dia tidak punya kendaraan roda empat, dia cuma punya motor beat keluaran lama, untuk mengisi bensin saja dia kesulitan dana karena penghasilannya yang pas-pasan.

Voldemort bersama para death eater kini sedang memburu seorang anak yang dijuluki sebagai “The Boy Who Live” atau anak yang selamat.

(bersambung)

Leia Mais…

25 Mei 2016

Selingkuh Bukan Takdir, Kawan

Berawal dari obrolan di suatu subuh dengan lelaki yang kupanggil Abi
Kala itu entah kenapa aku merasa tak akan pernah bisa mengimbangi besar kasih sayangnya buatku, dan entah kenapa aku merasa aku terlalu beruntung memilikinya tapi mungkin ia tak seberuntung itu memilikiku.
Entah atas dasar apa pula kalimat ini meluncur begitu saja.
“Bi, kalau suatu saat TAKDIR mendekatkanmu dengan wanita lain tolong beri tau aku, ya.”
Kalimat tak lazim yang ternyata membuat nyeri mengatakannya.
Alih-alih menjawab, dengan sebelah mata terpicing karena terpapar cahaya lampu, lelaki itu tersenyum dan menatapku lama.
Semenit kemudian, ketika sejurus kalimat memenuhi ruang benakku, katanya;  selingkuh itu bukan takdir
 Saat itu aku tak mengerti maksudnya, tapi aku tahu itu artinya ia tak akan meninggalkanku.
            Lama setelah kejadian itu, satu persatu makna kalimat itu pun terurai. Banyak cerita yang dibagi oleh teman, kakak, dan adik-adik yang “tertipu” oleh hasrat sesaat yang menjelma sebentuk takdir.
Hmmm...
Awalnya kadang tak disengaja, kita dekat dengan seseorang yang seperti bantal. Kenapa bantal? Karena bantal mampu memberi rasa nyaman. Layaknya sebuah episode drama, setiap pernikahan pun punya segmen yang tidak menarik untuk ditayangkan. Nah, ketika episode itu terjadi berbarengan dengan pertemuan dengan si bantal, maka muncul lah sebuah pemikiran tidak rasional bahwa ini adalah takdir.
Pernah seorang teman bertanya apakah mungkin ia jatuh cinta pada seseorang yang telah menikah dan ia tahu pernikahannya tak bahagia. Pernah juga seseorang berkata ia mencintai pasangannya tetapi ia telah juga mencintai orang lain yang baru dikenalnya. Lalu ada juga yang telah menikah dan memiliki anak merasa tak sedetik pun berhenti mencintai kekasih lamanya yang masih sering ber-sms ria dengannya. Atau yang lebih ekstrim, ada juga orang yang merasa bahwa takdir mempertemukan ia dalam satu kesempatan dengan jodohnya meski masing-masing telah memiliki pasangan. Rumit bukan? dan tentu saja menguras perasaan. Hadirnya orang ketiga, baik itu “jadian” atau “TTM-an” tetap saja judulnya selingkuh.
            Selidik punya selidik, ada beberapa kesamaan penyebab terjadinya berbagai perselingkuhan seperti di atas. Saya merangkumnya dalam 3 poin besar, yaitu kesempatan, ketidakpuasan yang terpendam, dan hayalan tak berdasar. Bahasan saya hanya berdasarkan obrolan yang berasal dari pemikiran semata, padahal kalau mau kembali ke agama hukumnya sangat jelas, tapi jujur saja kawan, ngomongin agama ke orang yang lagi terjangkit virus selingkuh ini, seperti menabur pupuk di tanah yang gak ada tanamannya, gak diserap!. Apa saja penjelasan poin tersebut? Saya coba urai satu per satu.
            Kesempatan, perselingkuhan tidak akan pernah terjadi kalau tidak ada kesempatan. Kesempatan di sini tidak sama dengan takdir, kesempatan di sini adalah space yang kita ciptakan sendiri. Meski kita terdampar di suatu pulau tak bertuan hanya berdua saja dengan pasangan orang lain, jika kita tidak membuka celah setitik pun untuk munculnya kesempatan si dia masuk dalam hati kita, perselingkuhan tak akan terjadi. Sebaliknya, meski 24 jam kita berduaan dengan pasangan tercinta, jika HP staytune bebas hambatan menerima SMS dari orang yang kita tahu memiliki niat lain, toh kesempatan itu terbuka juga. Jadi, jangan pernah buka setitik pun celah di hati kita untuk masuknya “sinyal satelit” lain selain pasangan kita. Sebaik apa pun dia, selembut apa pun, secantik atau setampan apa pun, setajir apa pun, plisss... jangan beri celah. Sekali celah itu terbuka dan kesempatan itu tercipta, selamat! Kita telah merintis jalan kehancuran, menyakiti hati sendiri, menyakiti hati pasangan, menyakiti hati keluarga, sedangkan dibawa ke pengadilan antah barantah pun kita tetap bersalah. Mengutip sebuah kalimat di sebuah buku tentang pernikahan (lupa judulnya) : “sekali kau memasuki gerbang pernikahan, jangan pernah berpikir apakah kau cukup mencintai pasanganmu atau tidak, tetapi kerahkanlah segala yang ada untuk mempertahankan kebahagiaan rumah tanggamu” tentu saja, cinta kan sama saja rasanya walau pun dibeli di pabrik yang berbeda. Jangan pernah lupa tujuan awal kita menikah, jangan pula sia-siakan bahwa pernikahan itu terpenuhinya sebagian agama, ibadahnya dan pahalanya luar biasa, sedangkan selingkuh? dosanya yang luar biasa.
            Poin selanjutnya; ketidakpuasan yang terpendam. Ketika ada perhatian yang kita inginkan tetapi pasangan kita tidak memberikannya, atau ketika yang kita temukan pada dirinya tidak seperti yang kita harapakan, begitu berulang-ulang, maka perlahan kekecewaan menumpuk menjadi ketidakpuasan. Sebenarnya ini lumrah tapi harus dibicarakan agar masalahnya selesai. Tetapi jika terus-menerus ditelan, lama-lama ia menjadi gunung es, nampak kecil di permukaan tetapi bueeesaaaarrr di dalamnya. Kembali ke si bantal, biasanya orang ini pintar memberi perhatian kecil pada kita, berbicara manis, dan pandai memainkan perasaan. Ketidakpuasan kita terhadap pasangan semakin meruncing mendapati perhatian dari si bantal. Eits, hati-hati ini bukan takdir kita berselingkuh dengannya, ini hanya lampiasan kekecewaan karena perlakuan itu tidak kita dapatkan dari pasangan. Hindari ia, dan dapatkan hal yang lebih indah dari pasangan kita. Caranya mudah, bicarakan dengan pasangan kita bahwa kita ingin ia begini dan begitu, tapi tentu saja kita juga harus memahami kalau pasangan kita menuntut kita untuk melakukan hal yang sama. Tips untuk pria nih, wanita sangat menyukai segala bentuk perhatian yang kadang menurut kalian remeh-temeh. Dan tips untuk wanita, pria senang dimengerti.
            Terakhir adalah hayalan tak berdasar. Maksudnya begini, ketika kita bertemu si bantal dan dekat dengannya, terbentuk suatu angan-angan bahwa di masa depan hari-hari akan sangat bahagia bersamanya. Hei, bangun!!! Ini sama sekali tidak berdasar, rasa nyaman yang memetamorfosakan diri menjadi hasrat terselubung yang menjelma sebagai takdir ini bukan jalan yang harus ditempuh. Terlalu naif jika cinta dan kisah yang telah dirajut dalam ikatan yang suci harus porak-poranda hanya karena ini. Ingat ini bukan takdir tapi ini hasrat yang menjelma untuk menipu. “kenapa ya kita baru dipertemukan sekarang setelah kita punya kehidupan masing-masing” ini yang sering dibahas oleh orang yang berselingkuh. 
Ya ampun kayak gitu kok ditanyain? ini ujian untuk kesetianmu pada pasangan. Ujian itu tidak melulu datang dalam bentuk yang menakutkan loh, ujian kadang juga berupa kebahagiaan.
            Hhmmm... selingkuh bukan takdir kawan, selingkuh itu pilihan yang kita buat. Kalau kita tidak berniat, tak kan terjadi. Begitulah lelakiku mengajarkanku sesuatu, ia tak memberiku ikan tetapi ia memberiku kail. Semoga ada manfaatnya buat kita, ya. Tak ada asap jika tak ada api.


Didedikasikan untuk sahabatku, R. Inget, ini hanya kiasan tanpa arogansi :p

Semoga coretan ini bisa menghangatkan hatimu, ya. :))

Leia Mais…

28 April 2016

Panjang, dan Ini Baru Sebagian

Pagi menyampaikan cerah
Ketika ayam memulai hari
Dan manusia menyiapkan batik terbaik
Pun aku, kusiapkan dandanan seadanya

Waktu mentari hampir menggapai langit
Manusia berkumpul pada satu atap
Kutatap satu persatu kedatangan mereka dari balik jendela

Seorang wanita duduk diam di dekat tempatku berdiri
Sesekali kutangkap rasa gundahnya
Tak lama sebelum aku jadi pemeran utama dan aku beraksi

Waktu langit meneduhi bumi dengan barisan awan
Ketika manusia menatap pada diri
Kugenggam cemas di hati dengan balutan bahagia
Tak lama berselang, Kuikrarkan janji pada Penguasa Kerajaan


Sayang, inilah awal; tengah belum lewat ujung belum sampai.
Namun, kujanjikan, sehebat apapun badai, kita akan bertahan.

Leia Mais…

15 April 2016

Bus Kopaja Jalur Tiga

Hujan deras menemani perjalananku kali ini. Menyandang ransel di sebelah bahu, cepat kunaiki bus yang segera melaju ke tujuannya. Bangku sudut belakang, sebelah kanan.
Denting gitar pengamen separoh baya menuaikan lirik lagu “Andai”nya Gigi.
Neraka, itulah yang kurasa hari ini, karena sesuatu hilang dalam hidupku.
Melempar jangkar memori ke rentang waktu bertepi.
Kala itu,
Masih belia ketika kita bertemu dengan seragam putih-abu.
Masih belia ketika kedekatan kita coba beri makna berbeda.
Dan masih sangat belia ketika kita putuskan untuk jatuh cinta.

***

Pelan bus ini menyusuri jalan Kali Urang, mengangkut setiap penumpang yang tergesa.
Memoriku kembali membentur pada sosokmu.
Masih muda ketika kuartikan pancar wajahmu itu dengan kata “tampan”.
Sangat muda  ketika kutahu ada aliran listrik 1000volt saat menyentuh jarimu.
Dan masih sangat muda ketika kudengar rayuan pertama dalam hidup.
Saat itu, basah kuyup kita di pelataran depan sekolah menanti hujan reda, katamu:
“kau seperti hujan, keindahanmu hanya dapat dirasakan jika seseorang mengenalmu, melihat bagaimana kau dengan ajaib seolah turun dari langit, melihat bagaimana caramu membasahi dedaunan, berinfiltrasi pada tanah, atau menjadi run off, atau berevaporasi setelahnya. Jika aku jadi tanah, aku rela meski pukulan-pukulanmu akan membuatku tererosi.” 

***

Bus berbelok di perempatan ring road, dan aku terbangun sejenak dari rangkai indah masa lalu. Kualihkan pandangaku ke jendela, hujan semakin deras.
Seolah tak ingin lari, segera kususul lagi hayalanku.
Masih muda ketika aku belajar tentang rindu; adalah ketika tak bertemu denganmu walau sehari.
Sangat muda  ketika aku belajar pengorbanan, yaitu ketika diam-diam kabur dari rumah jam delapan malam untuk melihat kota kita dari atas ketinggian lantai enam gedung IP. Memakai kostum bola dan memakai masker, penyamaran idemu waktu itu.
Sungguh aku masih muda ketika dengan sepihak kau bilang kita ‘’tunangan’’, lalu kau pasangkan di jari manisku, sebuah cincin rumput.
Dan masih sangat muda, ketika kita ikrarkan janji tak akan berpisah. Rumput-rumput liar berbunga kuning adalah permadani, kicau burung pipit adalah nyanyiannya, desau angin seolah sorak sorai peri pelindung, dan awan adalah payung kita.

***

Hujan mulai mereda.
Teriakan kondektur bus menyadarkanku bahwa aku telah berada di seputaran Janabadra.
Perempatan lampu merah dengan penjual es degan menggoda.
Aku tergoda, sama sepertimu yang kemudian berpaling pada kembang lain.
Tak tanggung-tanggung, seminggu setelah pernikahanmu baruku tahu.
Tepatnya hari ini, ya hari ini baru kutahu, sayang.
Tapi bus terus melaju, begitu juga hidupku.

***

Turun aku menyandang ranselku, ketika kaki kiriku menapak trotoar terminal Umbul Harjo.
Kuhela napas panjang, sadar bahwa aku telah kehilangan cinta pertama.
Menggigit bibir kupacu langkahku pada bus berikutnya.
Jalur 15, begitu terbaca, JOMBOR di pojok bawah tertera.
Kunaiki bus itu. Duduk di dekat pintu tengah.
Mengikuti tembang “Tentang kita”nya Peterpan yang dinyanyikan pengamen kecil.
Kusapa riang wajahnya dan meminta sebuah lagu.
‘Lagu apa, mbak?’ tukasnya
‘Jambrud, apa ajah terserah” jawabku sambil tersenyum kecil
Kemudian kutemani ia bernyanyi “… Kata mereka nenek sebelah matii waktu ngedenger aku lagi nyanyi
Hatiku mulai hangat.
“Jangan hujan lagi” pintaku sambil menghapus embun di jendela tempatku duduk.

***


Kala hujan menyentuh kulit bumi 
Ia tak hanya membawa butiran air 
Melainkan juga janji-janji yang terlupakan 
Hati-hati yang tertinggalkan 
Kisah-kisah yang terlewatkan 
Lagu-lagu yang tersingkirkan 
Pun maaf-maaf yang tak sempat terucapkan 
Dan kala ia turun, mata-mata yang memandang dari balik jendela tak hanya melihat hujan, 
Melainkan juga hamburan kenangan.

Leia Mais…

20 Maret 2016

POLITIK (Postingan Liar mengeliTIK): Perkara Diet

Saya ingin menyampaikan unek-unek elegan terkait penuturan ibu Puan di media beberapa waktu yang lalu tentang menyuruh orang miskin untuk berdiet.

Apa itu diet?
Menurut KBBI diet adalah aturan makanan khusus untuk kesehatan dan sebagainya (biasanya atas petunjuk dokter)

Saya tinggal di daerah yang saat ini bisa dikatakan berada dalam masa paceklik. Sebagian besar masyarakat kecamatan di sini adalah petani karet dan harga karet berada diambang batas yang sangat memprihatinkan. Tiap bulan harganya menurun.

Di sinilah saya melihat diet dari sisi yang berbeda.

Ketika buah pepaya nganggur atau cabai busuk dirasa sayang untuk dibuang, dengan segala kreativitas mereka menyulapnya jadi sambal yang punya citarasa tinggi. 

Ketika nasi basi dan dirasa berat untuk dibuang, mereka mengolahnya menjadi kerak. Bisa dimakan lagi besok-besok.

Ketika ada nasi tapi tidak mempunyai lauk, dengan lahapnya mereka makan hanya ditemani dengan lalapan (cabe, timun, kol dll). Bahkan ada yang menguyur nasi itu dengan air gula, lalu disantap seolah-olah itu adalah kudapan terlezat.

Ketika tidak mempunyai nasi sama sekali, mereka memarut ubi (atau apapun lainnya yang bisa untuk menggantikan peran nasi) lalu dibuat menjadi berbagi pegangan untuk menganjal perut sampai nanti ada rezeki lebih untuk membeli beras.

Dan berbagai kreativitas mereka lainnya (dalam hal makanan), yang saya belum tahu.

Dalam segala keterbatasan mereka tetap menemukan ide cemerlang agar tetap bisa mengisi perut. Boro-borolah mau mikirin gizi atau hegienis. Prinsipnya “yang penting cakmano ari ini, besok pacak berijo”

Jadi jurus survive orang sini dalam menghadapi krisis adalah Diet. Bukan diet sembarang diet, bukan diet seperti kalangan menengah ke atas.

Mereka diet demi bertahan dalam keterbatasan keuangan yang semakin tidak ideal. Kalau sudah urusan makanan,  inovasi dan lifehacks-nya luar biasa total. Penghayatannya mantap. Pengiritannya nomer satu.

Jadi begitulah cerita diet di sini Ibuku Puan Maharani. Mungkin maksud ibu kemarin cuma bercanda, tapi sayang sekali jika itu keluar dari seorang seperti ibu, seorang Menteri.

Tanpa disuruh pun bu, diet di sini sudah menjadi gaya hidup dan pilihan. Mereka sudah terbiasa untuk memilih, karena pilihan mereka hanya dua: DIET atau DIED.

Hikss!!!

Catatan:
Paceklik: /pa·cek·lik/ n 1 musim kekurangan bahan makanan; 2 masa sepi (tentang perdagangan, kegiatan, dan sebagainya); 3 masa sulit
yang penting cakmano ari ini, besok pacak berijo: Bahasa daerah Palembang yang artinya kurang lebih begini “Yang penting bagaimana hari ini, besok terserah”

Leia Mais…