Pengalaman yang paling apes itu kejadian waktu SMP.
Waktu itu aku dan teman-teman mau bolos dengan cara loncat pagar. Pagarnya tinggi, jadi harus gantian saling bantu ala panjat pinang.
Lagi seru, tiba-tiba terdengar teriakan pak kepala sekolah dari kejauhan, dan dalam hitungan detik teman-temanku menyelamatkan diri, tinggal aku sendiri yang lagi nongkrong di atas.
Bingung. Loncat ke luar berarti aku bolos sendirian, loncat ke dalam pun berarti tertangkap sendirian. Akhirnya aku loncat ke luar dan lari, selamatlah aku. Setidaknya hari ini, pikirku.
Dan di luar pagar ternyata ada seorang lelaki yang memakai seragam TNI jadul, tengah duduk santai sambil menenteng tas hitam lusuhnya, menyaksikan adegan tarzanku tadi sampai tuntas.
Setelah cengar cengir gak jelas, aku segera menjelma jadi Matt Damon di film Bourne.
Aaaakkkk... kabuuuuuuuur.
Teman, laki-laki itu adalah bapakku.
24 Agustus 2016
Episode Masa Kecil (2)
6 Agustus 2016
SO7
Setelah
mengawali weeked dengan senam demi menjaga bentuk tubuhku yang tetap menawan, akhirnya
aku dan QueenC (sebutan untuk para penggemarku) tepar lalu berguling-guling
manja. Sembari berguling-guling inilah terselip obrolan peting gak penting yang kami bahas, yaitu seputar pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam
lirik lagu Sheila On 7.
Lagu Seberapa Pantas
1 : Cukup indahkah dirimu untuk slalu kunantikan?
2 : Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku?
3 : Mampukah kita bertahan disaat kita jauh?
4 : Seberapa hebat kau untuk kubanggakan?
5 : Cukup tangguhkah dirimu untuk slalu 'ku andalkan?
6 : Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang?
7 : Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang?
8 : Seberapa pantaskah kau untukku tunggu?
Lagu Bertahan di Sana
9. Dinda apa kabar kau di sana?
10, Lelahkah menungguku berkelana?
11. Lelahkah menungguku kau di sana?
12. Bisa bertahankah kau di sana?
Lagu Itu Aku
13. Apakah kau akan terus begini?
14. Masihkah ada celah di hatimu yang masih bisa 'ku tuk singgahi?
15. Tahukah lagu yang kau suka?
16. Tahukah bintang yang kau sapa?
17. Tahukah rumah yang kau tuju?
Lagu Hari Bersamanya
18. Akankah aku ulangi merusak harinya?
Lagu Waktu Yang Tepat Tuk Berpisah
19. Bisakah aku tanpamu?
20. Sanggupkah aku tanpamu?
Lagu Berhenti Berharap
21. Kenapa ada derita bila bahagia tercipta?
22. Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan?
Lagu Bertahan di Sana
23. Dinda apa kabar kau di sana?
24. Lelahkah menungguku berkelana?
25. Lelahkah menungguku kau di sana?
26. Bisa bertahankah kau di sana?
27. Dapatkah engkau slalu menjagaku?
28. Dan mampukah engkau mempertahankanku?
Lagu Yang Terlewatkan
29. Kemana kau slama ini?
30. Kenapa baru sekarang kita dipertemukan?
Yak, kurang lebih inilah
pertanyaan yang ada dalam lagu-lagu SO7, kalo kurang ya tolong ditambahin, karena kita hanya mendengar lagu yang ada di daftar putra hp, hahaha. Bersamaan dengan postingan yang aku ketik di malam minggu sambil memantau
drama sepasang kekasih yang ribut di depan rumah, aku ingin menyampaikan
pesan untuk jodohku yang entah berapa jauh jarak kita sekarang, kita sudah
kenal atau belum, kita sudah ....
Pesanku coba baca list no. 4, 5, 6, 7
Jawablah dalam hati jangan lupa
sambil senyum.
#YAWLAAAAAAAAAAAAAA
Leia Mais…
27 Juli 2016
Eksekutif, Yudikatif, Legislatif
Di sebuah negara, hiduplah seorang
yang sangat kaya raya. Nama orang kaya tersebut adalah Eksekutif. Hartanya
sangat melimpah dan kian hari kian bertambah. Kekayaannya menjadikan ia sangat
disegani oleh penduduk negeri itu. Namun bukan berarti dengan kekayaannya
tersebut dia bisa hidup senang. Setiap hari Eksekutif harus berhati-hati
terhadap orang-orang jahat yang ingin mencuri
hartanya.
Suatu hari, ketika Eksekutif
sedang berangkat kerja, dia dicegat oleh dua orang pencuri. Pencuri yang satu
berwajah garang dan yang satunya lagi berwajah manis. Yang berwajah garang
bernama Yudikatif dan yang berwajah manis bernama Legislatif.
Lalu Yudikatif dengan wajah
garangnya menggertak Eksekutif dan memintanya menyerahkan harta yang dibawanya.
Legislatif sambil menodongkan senjata juga melakukan hal serupa dan
memerintahkan Eksekutif agar menyerahkan semua harta kekayaannya. Eksekutif
yang sedang terancam tak serta-merta menyerahakan hartanya begitu saja.
Eksekutif tak melawan tapi juga tidak pasrah. Lantas Eksekutif mengusulkan agar
hartanya lebih baik dibagi saja. Eksekutif berkata; “Hey maling, daripada
kalian mencuri hartaku ini, bagaimmana kalau kita bagi bertiga saja?” Ternyata
kedua maling tersebut sepakat dengan usul Eksekutif. Inilah kelebihan kedua
maling ini, bisa diajak kompromi, beda dengan maling yang lain.
Setelah usulnya disepakati oleh
kedua maling yang ingin merampas hartanya, Eksekutif menyarankan agar sebelum
membagi harta tersebut mereka bertiga makan siang terlebih dahulu. Lalu
eksekutif berkata; “Hey maling, bagaimana kalau sebelum kita bagi harta ini ada
baiknya kita makan siang dulu? Setelah makan baru kita bagi hartanya”. Ternyata
kedua maling ini setuju dengan ide Eksekutif. Lalu Eksekutif memberi sejumlah
uang kepada maling tersebut untuk membeli makanan. Lalu Legislatif
memerintahkan rekannya, Yudikatif, untuk membeli makanan sementara itu
Legislatif tetap di tempat untuk menjaga Eksekutif yang kaya raya agar tidak
kabur. Lalu berangkatlah Yudikatif ke pasar untuk membeli makanan.
Sembari menunggu Yudikatif pulang
dari pasar untuk membeli makanan, Eksekutif dan Legislatif berbincang-bincang
satu sama lain. Lalu Ekesekutif punya usul agar hartanya jangan dibagi tiga,
tapi cukup berdua saja dengan Legislatif. Eksekutif bertanya; “Hey Legislatif,
bagaimana kalau harta ini kita bagi berdua saja?” Legislatif berpikir sejenak
sebelum menjawab pertanyaan atau usul tersebut. Tak lama kemudian akhirnya
Legislatif setuju dengan usul Eksekutif. Tapi Legislatif bingung bagaimana
dengan temannya. Lalu ia bertanya pada Eksekutif; “Hey orang kaya, aku setuju dengan
usulmu itu tapi bagaimana dengan temanku? Dia pasti tidak sepakat karena juga
ingin kebagian harta”. Lalu Eksekutif berkata; Bagaimana kalau temanmu itu kita
bunuh saja lalu harta ini kita bagi berdua? Tanpa pikir panjang, Legislatif
menyutujui ide Eksekutif. Kemudian mereka mencari kayu besar yang akan dipakai
untuk memukul Yudikatif agar dia mati.
Sementara itu, Yudikatif yang
sudah selesai membeli makanan di pasar bergegas kembali ke tempat temannya
menyandera Eksekutif. Di tengah jalan tiba-tiba pikirannya berubah. Dia tak mau
kalau harta tersebut dibagi tiga. Yudikatif mau harta yang sangat banyak
tersebut jatuh ke tangannya semua.
Selang berapa waktu, Yudikatif
segera menuju tempat penyanderaan. Setibanya di sana, Yudikatif dipukuli oleh
Eksekutif dan Legislatif sampai mati. Setelah lelah memukul Yudikatif sampai
mati, mereka yang sangat kelaparan memilih untuk makan terlebih dahulu sebelum
membagi harta tersebut. Kemudian mereka berdua mengambil makanan yang dibawa
pulang oleh Yudikatif. Mereka makan dengan sangat lahap seperti orang rakus.
Dia kembali ke pasar untuk membeli racun. Dalam hatinya berkata;
Makanan ini akan kucampur dengan racun lalu kuberikan pada mereka berdua agar
mereka mati dan akulah yang akan menguasai harta itu semuanya.
Tak lama berselang, Eksekutif dan
Legislatif pun menyusul Yudikatif. Mereka bertiga mati dengan tidak membawa
harta apapun ke akhirat.
Leia Mais…
21 Juni 2016
ceriting: Lord Voldemort
Lord Voldemort adalah seorang
yang sangat pintar. Dia terlahir dalam sebuah keluarga sederhana dan dibesarkan
dengan penuh kasih sayang oleh keluarganya. Ibunya adalah seorang penjual jamu
keliling di komplek tempat tinggalnya. Ibu voldemort bernama Merope Gaunt. Kalo
lagi jual jamu sering disapa Mbok Gaunt. Ayah Voldemort adalah seorang Supir
Bajai berpengalaman. Beliau pernah berangkat dari
Tangerang ke Hogwartz dengan mengendarai bajaj ketika Voldemord tertinggal
kereta saat hendak berangkat ke Hogwarts di tahun pertamanya. Ayah Voldemort
bernama Tom Riddle dan dikalangan penarik bajaj sering disapa dengan nama Mas
Tom.
Tom Marvolo Riddle adalah nama
asli dari Voldemort. Dia sebenarnya adalah seorang anak yang manis, tidak
pernah tinggal kelas dan selalu dapat juara kelas di sekolahnya. Voldemort
pernah berjualan keripik singkong untuk membantu perekonomian keluarganya.
Sebenarnya, Voldemort tidak
berniat menjadi seorang penyihir, dia bercita-cita menjadi anggota DPR. Namun
dilarang ayahnya karna takut nanti voldemort korupsi. Karena Doi sering korupsi
uang hasil jual keripik di terminal angkot setempat.
Setelah lulus SD, ayah Voldemort
mengirimnya ke Hogwarts untuk belajar ngetik sepuluh jari. Di tahun pertamanya di
Hogwarts, Volde sering ditertawakan teman-temannya karna logat Njawa-nya yang sangat medok. Tapi Albus
Dumbledore selaku Headmaster menciptakan suatu ramuan untuk menghilangkan medok Volde.
Volde pernah jatuh cinta pada
seorang murid di Hogwarts yang berasal dari asrama Ravenclaw bernama
Srimurdiawati. Keduanya pernah tertangkap mesum oleh Prof. Mc Gonagall saat
malam Natal. Tetapi Albus memaklumi itu karena dia juga pernah muda.
Di Hogwarts, Volde merupakan seorang
murid yang sangat cerdas. Ketika Volde beranjak dewasa, beliau mendirikan suatu
ORMAS terlarang yang disebut Death Eater ( Pelahap Maut ). Bersama ormasnya ini
Volde sering mengadakan demo-demo. Seperti demo di gedung DPR-RI untuk
memprotes kenaikan harga BBM, demo kasus Bank Century dan demo kenapa foto dia dan teman-temannya gak pernah di-repost oleh admin pulangpulangganteng. Rencananya, tahun ini Volde akan mendirikan Sebuah Partai
Politik untuk Bersaing di Pemilu 2019.
Voldemort adalah seseorang yang sederhana,
dia tidak punya kendaraan roda empat, dia cuma punya motor beat keluaran lama, untuk
mengisi bensin saja dia kesulitan dana karena penghasilannya yang pas-pasan.
Voldemort bersama para death
eater kini sedang memburu seorang anak yang dijuluki sebagai “The Boy Who Live”
atau anak yang selamat.
(bersambung)
25 Mei 2016
Selingkuh Bukan Takdir, Kawan
Berawal dari obrolan di suatu
subuh dengan lelaki yang kupanggil Abi
Kala itu entah kenapa aku merasa
tak akan pernah bisa mengimbangi besar kasih sayangnya buatku, dan entah kenapa
aku merasa aku terlalu beruntung memilikinya tapi mungkin ia tak seberuntung
itu memilikiku.
Entah atas dasar apa pula kalimat
ini meluncur begitu saja.
“Bi, kalau suatu saat TAKDIR
mendekatkanmu dengan wanita lain tolong beri tau aku, ya.”
Kalimat tak lazim yang ternyata
membuat nyeri mengatakannya.
Alih-alih menjawab, dengan
sebelah mata terpicing karena terpapar cahaya lampu, lelaki itu tersenyum dan
menatapku lama.
Semenit kemudian, ketika sejurus
kalimat memenuhi ruang benakku, katanya; selingkuh
itu bukan takdir
Saat itu aku tak mengerti
maksudnya, tapi aku tahu itu artinya ia tak akan meninggalkanku.
Lama setelah kejadian itu, satu persatu makna kalimat itu
pun terurai. Banyak cerita yang dibagi oleh teman, kakak, dan adik-adik yang
“tertipu” oleh hasrat sesaat yang menjelma sebentuk takdir.
Hmmm...
Awalnya kadang
tak disengaja, kita dekat dengan seseorang yang seperti bantal. Kenapa bantal?
Karena bantal mampu memberi rasa nyaman. Layaknya sebuah episode drama, setiap
pernikahan pun punya segmen yang tidak menarik untuk ditayangkan. Nah, ketika
episode itu terjadi berbarengan dengan pertemuan dengan si bantal, maka muncul lah
sebuah pemikiran tidak rasional bahwa ini adalah takdir.
Pernah seorang teman bertanya
apakah mungkin ia jatuh cinta pada seseorang yang telah menikah dan ia tahu
pernikahannya tak bahagia. Pernah juga seseorang berkata ia mencintai
pasangannya tetapi ia telah juga mencintai orang lain yang baru dikenalnya.
Lalu ada juga yang telah menikah dan memiliki anak merasa tak sedetik pun
berhenti mencintai kekasih lamanya yang masih sering ber-sms ria dengannya. Atau yang lebih ekstrim, ada juga orang yang
merasa bahwa takdir mempertemukan ia dalam satu kesempatan dengan jodohnya
meski masing-masing telah memiliki pasangan. Rumit bukan? dan tentu saja
menguras perasaan. Hadirnya orang ketiga, baik itu “jadian” atau “TTM-an” tetap
saja judulnya selingkuh.
Selidik
punya selidik, ada beberapa kesamaan penyebab terjadinya berbagai
perselingkuhan seperti di atas. Saya merangkumnya dalam 3 poin besar, yaitu
kesempatan, ketidakpuasan yang terpendam, dan hayalan tak berdasar. Bahasan
saya hanya berdasarkan obrolan yang berasal dari pemikiran semata, padahal
kalau mau kembali ke agama hukumnya sangat jelas, tapi jujur saja kawan,
ngomongin agama ke orang yang lagi terjangkit virus selingkuh ini, seperti
menabur pupuk di tanah yang gak ada tanamannya, gak diserap!. Apa saja penjelasan
poin tersebut? Saya coba urai satu per satu.
Kesempatan, perselingkuhan tidak
akan pernah terjadi kalau tidak ada kesempatan. Kesempatan di sini tidak sama
dengan takdir, kesempatan di sini adalah space
yang kita ciptakan sendiri. Meski kita terdampar di suatu pulau tak
bertuan hanya berdua saja dengan pasangan orang lain, jika kita tidak membuka
celah setitik pun untuk munculnya kesempatan si dia masuk dalam hati kita,
perselingkuhan tak akan terjadi. Sebaliknya, meski 24 jam kita berduaan dengan
pasangan tercinta, jika HP staytune
bebas hambatan menerima SMS dari
orang yang kita tahu memiliki niat lain, toh kesempatan itu terbuka juga. Jadi,
jangan pernah buka setitik pun celah di hati kita untuk masuknya “sinyal
satelit” lain selain pasangan kita. Sebaik apa pun dia, selembut apa pun,
secantik atau setampan apa pun, setajir apa pun, plisss... jangan beri celah. Sekali celah itu terbuka dan
kesempatan itu tercipta, selamat! Kita telah merintis jalan kehancuran,
menyakiti hati sendiri, menyakiti hati pasangan, menyakiti hati keluarga,
sedangkan dibawa ke pengadilan antah barantah pun kita tetap bersalah. Mengutip
sebuah kalimat di sebuah buku tentang pernikahan (lupa judulnya) : “sekali kau
memasuki gerbang pernikahan, jangan pernah berpikir apakah kau cukup mencintai
pasanganmu atau tidak, tetapi kerahkanlah segala yang ada untuk mempertahankan kebahagiaan
rumah tanggamu” tentu saja, cinta kan sama saja rasanya walau pun dibeli di
pabrik yang berbeda. Jangan pernah lupa tujuan awal kita menikah, jangan pula
sia-siakan bahwa pernikahan itu terpenuhinya sebagian agama, ibadahnya dan
pahalanya luar biasa, sedangkan selingkuh? dosanya yang luar biasa.
Poin selanjutnya; ketidakpuasan yang
terpendam. Ketika ada perhatian yang kita inginkan tetapi pasangan kita
tidak memberikannya, atau ketika yang kita temukan pada dirinya tidak seperti
yang kita harapakan, begitu berulang-ulang, maka perlahan kekecewaan menumpuk
menjadi ketidakpuasan. Sebenarnya ini lumrah tapi harus dibicarakan agar
masalahnya selesai. Tetapi jika terus-menerus ditelan, lama-lama ia menjadi
gunung es, nampak kecil di permukaan tetapi bueeesaaaarrr di dalamnya. Kembali
ke si bantal, biasanya orang ini pintar memberi perhatian kecil pada kita,
berbicara manis, dan pandai memainkan perasaan. Ketidakpuasan kita terhadap
pasangan semakin meruncing mendapati perhatian dari si bantal. Eits, hati-hati ini bukan takdir kita
berselingkuh dengannya, ini hanya lampiasan kekecewaan karena perlakuan itu
tidak kita dapatkan dari pasangan. Hindari ia, dan dapatkan hal yang lebih
indah dari pasangan kita. Caranya mudah, bicarakan dengan pasangan kita bahwa
kita ingin ia begini dan begitu, tapi tentu saja kita juga harus memahami kalau
pasangan kita menuntut kita untuk melakukan hal yang sama. Tips untuk pria nih,
wanita sangat menyukai segala bentuk perhatian yang kadang menurut kalian
remeh-temeh. Dan tips untuk wanita, pria senang dimengerti.
Terakhir adalah hayalan tak berdasar.
Maksudnya begini, ketika kita bertemu si bantal dan dekat dengannya, terbentuk
suatu angan-angan bahwa di masa depan hari-hari akan sangat bahagia bersamanya.
Hei, bangun!!! Ini sama sekali tidak berdasar, rasa nyaman yang
memetamorfosakan diri menjadi hasrat terselubung yang menjelma sebagai takdir
ini bukan jalan yang harus ditempuh. Terlalu naif jika cinta dan kisah yang
telah dirajut dalam ikatan yang suci harus porak-poranda hanya karena ini.
Ingat ini bukan takdir tapi ini hasrat yang menjelma untuk menipu. “kenapa ya kita
baru dipertemukan sekarang setelah kita punya kehidupan masing-masing” ini yang
sering dibahas oleh orang yang berselingkuh.
“Ya ampun kayak gitu kok ditanyain? ini ujian untuk kesetianmu pada pasangan. Ujian itu
tidak melulu datang dalam bentuk yang menakutkan loh, ujian kadang juga berupa kebahagiaan.
Hhmmm... selingkuh bukan takdir kawan, selingkuh itu pilihan yang kita buat.
Kalau kita tidak berniat, tak kan terjadi. Begitulah lelakiku mengajarkanku
sesuatu, ia tak memberiku ikan tetapi ia memberiku kail. Semoga ada manfaatnya
buat kita, ya. Tak ada asap jika tak ada api.
Didedikasikan untuk
sahabatku, R. Inget, ini hanya kiasan tanpa arogansi :p
Semoga coretan ini bisa
menghangatkan hatimu, ya. :))
Leia Mais…
28 April 2016
Panjang, dan Ini Baru Sebagian
Pagi menyampaikan cerah
Ketika ayam memulai hari
Dan manusia menyiapkan batik terbaik
Pun aku, kusiapkan dandanan seadanya
Waktu mentari hampir menggapai langit
Manusia berkumpul pada satu atap
Kutatap satu persatu kedatangan mereka dari balik jendela
Seorang wanita duduk diam di dekat tempatku berdiri
Sesekali kutangkap rasa gundahnya
Tak lama sebelum aku jadi pemeran utama dan aku beraksi
Waktu langit meneduhi bumi dengan barisan awan
Ketika manusia menatap pada diri
Kugenggam cemas di hati dengan balutan bahagia
Tak lama berselang, Kuikrarkan janji pada Penguasa Kerajaan
Pun aku, kusiapkan dandanan seadanya
Waktu mentari hampir menggapai langit
Manusia berkumpul pada satu atap
Kutatap satu persatu kedatangan mereka dari balik jendela
Seorang wanita duduk diam di dekat tempatku berdiri
Sesekali kutangkap rasa gundahnya
Tak lama sebelum aku jadi pemeran utama dan aku beraksi
Waktu langit meneduhi bumi dengan barisan awan
Ketika manusia menatap pada diri
Kugenggam cemas di hati dengan balutan bahagia
Tak lama berselang, Kuikrarkan janji pada Penguasa Kerajaan
Sayang, inilah awal; tengah belum lewat ujung belum sampai.
Namun, kujanjikan, sehebat apapun badai, kita akan bertahan.
15 April 2016
Bus Kopaja Jalur Tiga
Hujan deras menemani perjalananku kali ini. Menyandang
ransel di sebelah bahu, cepat kunaiki bus yang segera melaju ke tujuannya. Bangku sudut belakang,
sebelah kanan.
Denting gitar pengamen separoh baya menuaikan lirik lagu “Andai”nya Gigi.
Neraka, itulah yang kurasa hari ini, karena sesuatu hilang dalam hidupku.
Melempar jangkar memori ke rentang waktu bertepi.
Denting gitar pengamen separoh baya menuaikan lirik lagu “Andai”nya Gigi.
Neraka, itulah yang kurasa hari ini, karena sesuatu hilang dalam hidupku.
Melempar jangkar memori ke rentang waktu bertepi.
Kala itu,
Masih belia ketika kita bertemu dengan seragam putih-abu.
Masih belia ketika kedekatan kita coba beri makna berbeda.
Dan masih sangat belia ketika kita putuskan untuk jatuh cinta.
Masih belia ketika kita bertemu dengan seragam putih-abu.
Masih belia ketika kedekatan kita coba beri makna berbeda.
Dan masih sangat belia ketika kita putuskan untuk jatuh cinta.
***
Pelan bus ini menyusuri jalan Kali Urang, mengangkut setiap penumpang yang tergesa.
Memoriku kembali membentur pada sosokmu.
Masih muda ketika kuartikan pancar wajahmu itu dengan kata “tampan”.
Sangat muda ketika kutahu ada aliran listrik 1000volt saat menyentuh jarimu.
Dan masih sangat muda ketika kudengar rayuan pertama dalam hidup.
Saat itu, basah kuyup kita di pelataran depan sekolah menanti hujan reda, katamu:
“kau seperti hujan, keindahanmu hanya dapat dirasakan jika seseorang mengenalmu, melihat bagaimana kau dengan ajaib seolah turun dari langit, melihat bagaimana caramu membasahi dedaunan, berinfiltrasi pada tanah, atau menjadi run off, atau berevaporasi setelahnya. Jika aku jadi tanah, aku rela meski pukulan-pukulanmu akan membuatku tererosi.”
***
Bus berbelok di perempatan ring road, dan aku terbangun sejenak dari rangkai indah masa lalu. Kualihkan
pandangaku ke jendela, hujan semakin deras.
Seolah tak ingin lari, segera kususul lagi hayalanku.
Masih muda ketika aku belajar tentang rindu; adalah ketika tak bertemu denganmu walau sehari.
Sangat muda ketika aku belajar pengorbanan, yaitu ketika diam-diam kabur dari rumah jam delapan malam untuk melihat kota kita dari atas ketinggian lantai enam gedung IP. Memakai kostum bola dan memakai masker, penyamaran idemu waktu itu.
Sungguh aku masih muda ketika dengan sepihak kau bilang kita ‘’tunangan’’, lalu kau pasangkan di jari manisku, sebuah cincin rumput.
Dan masih sangat muda, ketika kita ikrarkan janji tak akan berpisah. Rumput-rumput liar berbunga kuning adalah permadani, kicau burung pipit adalah nyanyiannya, desau angin seolah sorak sorai peri pelindung, dan awan adalah payung kita.
Seolah tak ingin lari, segera kususul lagi hayalanku.
Masih muda ketika aku belajar tentang rindu; adalah ketika tak bertemu denganmu walau sehari.
Sangat muda ketika aku belajar pengorbanan, yaitu ketika diam-diam kabur dari rumah jam delapan malam untuk melihat kota kita dari atas ketinggian lantai enam gedung IP. Memakai kostum bola dan memakai masker, penyamaran idemu waktu itu.
Sungguh aku masih muda ketika dengan sepihak kau bilang kita ‘’tunangan’’, lalu kau pasangkan di jari manisku, sebuah cincin rumput.
Dan masih sangat muda, ketika kita ikrarkan janji tak akan berpisah. Rumput-rumput liar berbunga kuning adalah permadani, kicau burung pipit adalah nyanyiannya, desau angin seolah sorak sorai peri pelindung, dan awan adalah payung kita.
***
Hujan mulai mereda.
Teriakan kondektur bus menyadarkanku bahwa aku telah
berada di seputaran Janabadra.
Perempatan lampu merah dengan penjual es degan menggoda.
Aku tergoda, sama sepertimu yang kemudian berpaling pada kembang lain.
Tak tanggung-tanggung, seminggu setelah pernikahanmu baruku tahu.
Perempatan lampu merah dengan penjual es degan menggoda.
Aku tergoda, sama sepertimu yang kemudian berpaling pada kembang lain.
Tak tanggung-tanggung, seminggu setelah pernikahanmu baruku tahu.
Tepatnya hari ini, ya hari ini baru kutahu, sayang.
Tapi bus terus melaju, begitu juga hidupku.
Tapi bus terus melaju, begitu juga hidupku.
***
Turun aku menyandang ranselku, ketika kaki kiriku menapak trotoar terminal Umbul Harjo.
Kuhela napas panjang, sadar bahwa aku telah kehilangan cinta pertama.
Menggigit bibir kupacu langkahku pada bus berikutnya.
Jalur 15, begitu terbaca, JOMBOR di pojok bawah tertera.
Kunaiki bus itu. Duduk di dekat pintu tengah.
Mengikuti tembang “Tentang kita”nya Peterpan yang dinyanyikan pengamen kecil.
Kusapa riang wajahnya dan meminta sebuah lagu.
‘Lagu apa, mbak?’ tukasnya
‘Jambrud, apa ajah terserah” jawabku sambil tersenyum kecil
Kemudian kutemani ia bernyanyi “… Kata mereka nenek sebelah matii waktu ngedenger aku lagi nyanyi”
Hatiku mulai hangat.
“Jangan hujan lagi” pintaku sambil menghapus embun di jendela tempatku duduk.
“Jangan hujan lagi” pintaku sambil menghapus embun di jendela tempatku duduk.
***
Kala hujan menyentuh kulit bumi
Ia tak hanya membawa butiran air
Melainkan juga janji-janji yang terlupakan
Hati-hati yang tertinggalkan
Kisah-kisah yang terlewatkan
Lagu-lagu yang tersingkirkan
Pun maaf-maaf yang tak sempat terucapkan
Dan kala ia turun, mata-mata yang memandang dari balik jendela tak hanya melihat hujan,
Melainkan juga hamburan kenangan.
20 Maret 2016
POLITIK (Postingan Liar mengeliTIK): Perkara Diet
Saya ingin menyampaikan
unek-unek elegan terkait penuturan ibu Puan di media beberapa waktu yang lalu
tentang menyuruh orang miskin untuk berdiet.
Apa itu diet?
Menurut KBBI diet
adalah aturan makanan khusus untuk kesehatan dan sebagainya (biasanya atas petunjuk
dokter)
Saya tinggal di daerah
yang saat ini bisa dikatakan berada dalam masa paceklik. Sebagian besar
masyarakat kecamatan di sini adalah petani karet dan harga karet berada
diambang batas yang sangat memprihatinkan. Tiap bulan harganya menurun.
Di sinilah saya melihat diet dari sisi
yang berbeda.
Ketika buah pepaya nganggur atau cabai busuk dirasa sayang
untuk dibuang, dengan segala kreativitas mereka menyulapnya jadi sambal yang
punya citarasa tinggi.
Ketika ada nasi tapi
tidak mempunyai lauk, dengan lahapnya mereka makan hanya ditemani dengan
lalapan (cabe, timun, kol dll). Bahkan ada yang menguyur nasi itu dengan air
gula, lalu disantap seolah-olah itu adalah kudapan terlezat.
Ketika tidak
mempunyai nasi sama sekali, mereka memarut ubi (atau
apapun lainnya yang bisa untuk menggantikan peran nasi) lalu dibuat menjadi berbagi
pegangan untuk menganjal perut sampai nanti ada rezeki lebih untuk membeli
beras.
Dan berbagai kreativitas mereka lainnya
(dalam hal makanan), yang saya belum tahu.
Dalam segala
keterbatasan mereka tetap menemukan ide cemerlang agar tetap bisa mengisi
perut. Boro-borolah mau mikirin gizi atau hegienis. Prinsipnya “yang penting
cakmano ari ini, besok pacak berijo”
Jadi jurus survive
orang sini dalam menghadapi krisis adalah Diet. Bukan diet sembarang diet,
bukan diet seperti kalangan menengah ke atas.
Mereka diet demi
bertahan dalam keterbatasan keuangan yang semakin tidak ideal. Kalau sudah
urusan makanan, inovasi dan lifehacks-nya luar biasa total.
Penghayatannya mantap. Pengiritannya nomer satu.
Jadi begitulah cerita
diet di sini Ibuku Puan Maharani. Mungkin maksud ibu kemarin cuma bercanda,
tapi sayang sekali jika itu keluar dari seorang seperti ibu, seorang Menteri.
Tanpa disuruh pun bu, diet
di sini sudah menjadi gaya hidup dan pilihan. Mereka sudah terbiasa untuk
memilih, karena pilihan mereka hanya dua: DIET atau DIED.
Hikss!!!
Catatan:
Paceklik: /pa·cek·lik/ n 1 musim kekurangan bahan makanan; 2 masa sepi (tentang perdagangan, kegiatan, dan sebagainya); 3 masa sulit
yang penting cakmano ari ini, besok pacak berijo: Bahasa daerah Palembang yang artinya kurang lebih begini “Yang
penting bagaimana hari ini, besok terserah”
Leia Mais…
Langganan:
Komentar (Atom)