Berawal dari obrolan di suatu
subuh dengan lelaki yang kupanggil Abi
Kala itu entah kenapa aku merasa
tak akan pernah bisa mengimbangi besar kasih sayangnya buatku, dan entah kenapa
aku merasa aku terlalu beruntung memilikinya tapi mungkin ia tak seberuntung
itu memilikiku.
Entah atas dasar apa pula kalimat
ini meluncur begitu saja.
“Bi, kalau suatu saat TAKDIR
mendekatkanmu dengan wanita lain tolong beri tau aku, ya.”
Kalimat tak lazim yang ternyata
membuat nyeri mengatakannya.
Alih-alih menjawab, dengan
sebelah mata terpicing karena terpapar cahaya lampu, lelaki itu tersenyum dan
menatapku lama.
Semenit kemudian, ketika sejurus
kalimat memenuhi ruang benakku, katanya; selingkuh
itu bukan takdir
Saat itu aku tak mengerti
maksudnya, tapi aku tahu itu artinya ia tak akan meninggalkanku.
Lama setelah kejadian itu, satu persatu makna kalimat itu
pun terurai. Banyak cerita yang dibagi oleh teman, kakak, dan adik-adik yang
“tertipu” oleh hasrat sesaat yang menjelma sebentuk takdir.
Hmmm...
Awalnya kadang
tak disengaja, kita dekat dengan seseorang yang seperti bantal. Kenapa bantal?
Karena bantal mampu memberi rasa nyaman. Layaknya sebuah episode drama, setiap
pernikahan pun punya segmen yang tidak menarik untuk ditayangkan. Nah, ketika
episode itu terjadi berbarengan dengan pertemuan dengan si bantal, maka muncul lah
sebuah pemikiran tidak rasional bahwa ini adalah takdir.
Pernah seorang teman bertanya
apakah mungkin ia jatuh cinta pada seseorang yang telah menikah dan ia tahu
pernikahannya tak bahagia. Pernah juga seseorang berkata ia mencintai
pasangannya tetapi ia telah juga mencintai orang lain yang baru dikenalnya.
Lalu ada juga yang telah menikah dan memiliki anak merasa tak sedetik pun
berhenti mencintai kekasih lamanya yang masih sering ber-sms ria dengannya. Atau yang lebih ekstrim, ada juga orang yang
merasa bahwa takdir mempertemukan ia dalam satu kesempatan dengan jodohnya
meski masing-masing telah memiliki pasangan. Rumit bukan? dan tentu saja
menguras perasaan. Hadirnya orang ketiga, baik itu “jadian” atau “TTM-an” tetap
saja judulnya selingkuh.
Selidik
punya selidik, ada beberapa kesamaan penyebab terjadinya berbagai
perselingkuhan seperti di atas. Saya merangkumnya dalam 3 poin besar, yaitu
kesempatan, ketidakpuasan yang terpendam, dan hayalan tak berdasar. Bahasan
saya hanya berdasarkan obrolan yang berasal dari pemikiran semata, padahal
kalau mau kembali ke agama hukumnya sangat jelas, tapi jujur saja kawan,
ngomongin agama ke orang yang lagi terjangkit virus selingkuh ini, seperti
menabur pupuk di tanah yang gak ada tanamannya, gak diserap!. Apa saja penjelasan
poin tersebut? Saya coba urai satu per satu.
Kesempatan, perselingkuhan tidak
akan pernah terjadi kalau tidak ada kesempatan. Kesempatan di sini tidak sama
dengan takdir, kesempatan di sini adalah space
yang kita ciptakan sendiri. Meski kita terdampar di suatu pulau tak
bertuan hanya berdua saja dengan pasangan orang lain, jika kita tidak membuka
celah setitik pun untuk munculnya kesempatan si dia masuk dalam hati kita,
perselingkuhan tak akan terjadi. Sebaliknya, meski 24 jam kita berduaan dengan
pasangan tercinta, jika HP staytune
bebas hambatan menerima SMS dari
orang yang kita tahu memiliki niat lain, toh kesempatan itu terbuka juga. Jadi,
jangan pernah buka setitik pun celah di hati kita untuk masuknya “sinyal
satelit” lain selain pasangan kita. Sebaik apa pun dia, selembut apa pun,
secantik atau setampan apa pun, setajir apa pun, plisss... jangan beri celah. Sekali celah itu terbuka dan
kesempatan itu tercipta, selamat! Kita telah merintis jalan kehancuran,
menyakiti hati sendiri, menyakiti hati pasangan, menyakiti hati keluarga,
sedangkan dibawa ke pengadilan antah barantah pun kita tetap bersalah. Mengutip
sebuah kalimat di sebuah buku tentang pernikahan (lupa judulnya) : “sekali kau
memasuki gerbang pernikahan, jangan pernah berpikir apakah kau cukup mencintai
pasanganmu atau tidak, tetapi kerahkanlah segala yang ada untuk mempertahankan kebahagiaan
rumah tanggamu” tentu saja, cinta kan sama saja rasanya walau pun dibeli di
pabrik yang berbeda. Jangan pernah lupa tujuan awal kita menikah, jangan pula
sia-siakan bahwa pernikahan itu terpenuhinya sebagian agama, ibadahnya dan
pahalanya luar biasa, sedangkan selingkuh? dosanya yang luar biasa.
Poin selanjutnya; ketidakpuasan yang
terpendam. Ketika ada perhatian yang kita inginkan tetapi pasangan kita
tidak memberikannya, atau ketika yang kita temukan pada dirinya tidak seperti
yang kita harapakan, begitu berulang-ulang, maka perlahan kekecewaan menumpuk
menjadi ketidakpuasan. Sebenarnya ini lumrah tapi harus dibicarakan agar
masalahnya selesai. Tetapi jika terus-menerus ditelan, lama-lama ia menjadi
gunung es, nampak kecil di permukaan tetapi bueeesaaaarrr di dalamnya. Kembali
ke si bantal, biasanya orang ini pintar memberi perhatian kecil pada kita,
berbicara manis, dan pandai memainkan perasaan. Ketidakpuasan kita terhadap
pasangan semakin meruncing mendapati perhatian dari si bantal. Eits, hati-hati ini bukan takdir kita
berselingkuh dengannya, ini hanya lampiasan kekecewaan karena perlakuan itu
tidak kita dapatkan dari pasangan. Hindari ia, dan dapatkan hal yang lebih
indah dari pasangan kita. Caranya mudah, bicarakan dengan pasangan kita bahwa
kita ingin ia begini dan begitu, tapi tentu saja kita juga harus memahami kalau
pasangan kita menuntut kita untuk melakukan hal yang sama. Tips untuk pria nih,
wanita sangat menyukai segala bentuk perhatian yang kadang menurut kalian
remeh-temeh. Dan tips untuk wanita, pria senang dimengerti.
Terakhir adalah hayalan tak berdasar.
Maksudnya begini, ketika kita bertemu si bantal dan dekat dengannya, terbentuk
suatu angan-angan bahwa di masa depan hari-hari akan sangat bahagia bersamanya.
Hei, bangun!!! Ini sama sekali tidak berdasar, rasa nyaman yang
memetamorfosakan diri menjadi hasrat terselubung yang menjelma sebagai takdir
ini bukan jalan yang harus ditempuh. Terlalu naif jika cinta dan kisah yang
telah dirajut dalam ikatan yang suci harus porak-poranda hanya karena ini.
Ingat ini bukan takdir tapi ini hasrat yang menjelma untuk menipu. “kenapa ya kita
baru dipertemukan sekarang setelah kita punya kehidupan masing-masing” ini yang
sering dibahas oleh orang yang berselingkuh.
“Ya ampun kayak gitu kok ditanyain? ini ujian untuk kesetianmu pada pasangan. Ujian itu
tidak melulu datang dalam bentuk yang menakutkan loh, ujian kadang juga berupa kebahagiaan.
Hhmmm... selingkuh bukan takdir kawan, selingkuh itu pilihan yang kita buat.
Kalau kita tidak berniat, tak kan terjadi. Begitulah lelakiku mengajarkanku
sesuatu, ia tak memberiku ikan tetapi ia memberiku kail. Semoga ada manfaatnya
buat kita, ya. Tak ada asap jika tak ada api.
Didedikasikan untuk
sahabatku, R. Inget, ini hanya kiasan tanpa arogansi :p
Semoga coretan ini bisa
menghangatkan hatimu, ya. :))
Leia Mais…