25 Mei 2016

Selingkuh Bukan Takdir, Kawan

Berawal dari obrolan di suatu subuh dengan lelaki yang kupanggil Abi
Kala itu entah kenapa aku merasa tak akan pernah bisa mengimbangi besar kasih sayangnya buatku, dan entah kenapa aku merasa aku terlalu beruntung memilikinya tapi mungkin ia tak seberuntung itu memilikiku.
Entah atas dasar apa pula kalimat ini meluncur begitu saja.
“Bi, kalau suatu saat TAKDIR mendekatkanmu dengan wanita lain tolong beri tau aku, ya.”
Kalimat tak lazim yang ternyata membuat nyeri mengatakannya.
Alih-alih menjawab, dengan sebelah mata terpicing karena terpapar cahaya lampu, lelaki itu tersenyum dan menatapku lama.
Semenit kemudian, ketika sejurus kalimat memenuhi ruang benakku, katanya;  selingkuh itu bukan takdir
 Saat itu aku tak mengerti maksudnya, tapi aku tahu itu artinya ia tak akan meninggalkanku.
            Lama setelah kejadian itu, satu persatu makna kalimat itu pun terurai. Banyak cerita yang dibagi oleh teman, kakak, dan adik-adik yang “tertipu” oleh hasrat sesaat yang menjelma sebentuk takdir.
Hmmm...
Awalnya kadang tak disengaja, kita dekat dengan seseorang yang seperti bantal. Kenapa bantal? Karena bantal mampu memberi rasa nyaman. Layaknya sebuah episode drama, setiap pernikahan pun punya segmen yang tidak menarik untuk ditayangkan. Nah, ketika episode itu terjadi berbarengan dengan pertemuan dengan si bantal, maka muncul lah sebuah pemikiran tidak rasional bahwa ini adalah takdir.
Pernah seorang teman bertanya apakah mungkin ia jatuh cinta pada seseorang yang telah menikah dan ia tahu pernikahannya tak bahagia. Pernah juga seseorang berkata ia mencintai pasangannya tetapi ia telah juga mencintai orang lain yang baru dikenalnya. Lalu ada juga yang telah menikah dan memiliki anak merasa tak sedetik pun berhenti mencintai kekasih lamanya yang masih sering ber-sms ria dengannya. Atau yang lebih ekstrim, ada juga orang yang merasa bahwa takdir mempertemukan ia dalam satu kesempatan dengan jodohnya meski masing-masing telah memiliki pasangan. Rumit bukan? dan tentu saja menguras perasaan. Hadirnya orang ketiga, baik itu “jadian” atau “TTM-an” tetap saja judulnya selingkuh.
            Selidik punya selidik, ada beberapa kesamaan penyebab terjadinya berbagai perselingkuhan seperti di atas. Saya merangkumnya dalam 3 poin besar, yaitu kesempatan, ketidakpuasan yang terpendam, dan hayalan tak berdasar. Bahasan saya hanya berdasarkan obrolan yang berasal dari pemikiran semata, padahal kalau mau kembali ke agama hukumnya sangat jelas, tapi jujur saja kawan, ngomongin agama ke orang yang lagi terjangkit virus selingkuh ini, seperti menabur pupuk di tanah yang gak ada tanamannya, gak diserap!. Apa saja penjelasan poin tersebut? Saya coba urai satu per satu.
            Kesempatan, perselingkuhan tidak akan pernah terjadi kalau tidak ada kesempatan. Kesempatan di sini tidak sama dengan takdir, kesempatan di sini adalah space yang kita ciptakan sendiri. Meski kita terdampar di suatu pulau tak bertuan hanya berdua saja dengan pasangan orang lain, jika kita tidak membuka celah setitik pun untuk munculnya kesempatan si dia masuk dalam hati kita, perselingkuhan tak akan terjadi. Sebaliknya, meski 24 jam kita berduaan dengan pasangan tercinta, jika HP staytune bebas hambatan menerima SMS dari orang yang kita tahu memiliki niat lain, toh kesempatan itu terbuka juga. Jadi, jangan pernah buka setitik pun celah di hati kita untuk masuknya “sinyal satelit” lain selain pasangan kita. Sebaik apa pun dia, selembut apa pun, secantik atau setampan apa pun, setajir apa pun, plisss... jangan beri celah. Sekali celah itu terbuka dan kesempatan itu tercipta, selamat! Kita telah merintis jalan kehancuran, menyakiti hati sendiri, menyakiti hati pasangan, menyakiti hati keluarga, sedangkan dibawa ke pengadilan antah barantah pun kita tetap bersalah. Mengutip sebuah kalimat di sebuah buku tentang pernikahan (lupa judulnya) : “sekali kau memasuki gerbang pernikahan, jangan pernah berpikir apakah kau cukup mencintai pasanganmu atau tidak, tetapi kerahkanlah segala yang ada untuk mempertahankan kebahagiaan rumah tanggamu” tentu saja, cinta kan sama saja rasanya walau pun dibeli di pabrik yang berbeda. Jangan pernah lupa tujuan awal kita menikah, jangan pula sia-siakan bahwa pernikahan itu terpenuhinya sebagian agama, ibadahnya dan pahalanya luar biasa, sedangkan selingkuh? dosanya yang luar biasa.
            Poin selanjutnya; ketidakpuasan yang terpendam. Ketika ada perhatian yang kita inginkan tetapi pasangan kita tidak memberikannya, atau ketika yang kita temukan pada dirinya tidak seperti yang kita harapakan, begitu berulang-ulang, maka perlahan kekecewaan menumpuk menjadi ketidakpuasan. Sebenarnya ini lumrah tapi harus dibicarakan agar masalahnya selesai. Tetapi jika terus-menerus ditelan, lama-lama ia menjadi gunung es, nampak kecil di permukaan tetapi bueeesaaaarrr di dalamnya. Kembali ke si bantal, biasanya orang ini pintar memberi perhatian kecil pada kita, berbicara manis, dan pandai memainkan perasaan. Ketidakpuasan kita terhadap pasangan semakin meruncing mendapati perhatian dari si bantal. Eits, hati-hati ini bukan takdir kita berselingkuh dengannya, ini hanya lampiasan kekecewaan karena perlakuan itu tidak kita dapatkan dari pasangan. Hindari ia, dan dapatkan hal yang lebih indah dari pasangan kita. Caranya mudah, bicarakan dengan pasangan kita bahwa kita ingin ia begini dan begitu, tapi tentu saja kita juga harus memahami kalau pasangan kita menuntut kita untuk melakukan hal yang sama. Tips untuk pria nih, wanita sangat menyukai segala bentuk perhatian yang kadang menurut kalian remeh-temeh. Dan tips untuk wanita, pria senang dimengerti.
            Terakhir adalah hayalan tak berdasar. Maksudnya begini, ketika kita bertemu si bantal dan dekat dengannya, terbentuk suatu angan-angan bahwa di masa depan hari-hari akan sangat bahagia bersamanya. Hei, bangun!!! Ini sama sekali tidak berdasar, rasa nyaman yang memetamorfosakan diri menjadi hasrat terselubung yang menjelma sebagai takdir ini bukan jalan yang harus ditempuh. Terlalu naif jika cinta dan kisah yang telah dirajut dalam ikatan yang suci harus porak-poranda hanya karena ini. Ingat ini bukan takdir tapi ini hasrat yang menjelma untuk menipu. “kenapa ya kita baru dipertemukan sekarang setelah kita punya kehidupan masing-masing” ini yang sering dibahas oleh orang yang berselingkuh. 
Ya ampun kayak gitu kok ditanyain? ini ujian untuk kesetianmu pada pasangan. Ujian itu tidak melulu datang dalam bentuk yang menakutkan loh, ujian kadang juga berupa kebahagiaan.
            Hhmmm... selingkuh bukan takdir kawan, selingkuh itu pilihan yang kita buat. Kalau kita tidak berniat, tak kan terjadi. Begitulah lelakiku mengajarkanku sesuatu, ia tak memberiku ikan tetapi ia memberiku kail. Semoga ada manfaatnya buat kita, ya. Tak ada asap jika tak ada api.


Didedikasikan untuk sahabatku, R. Inget, ini hanya kiasan tanpa arogansi :p

Semoga coretan ini bisa menghangatkan hatimu, ya. :))

Leia Mais…