2 November 2012

Sabtu Malam Rido

Sabtu siang...

Tiba-tiba ada sms masuk




Wah si Cia, cewek tercantik di kampus ngajakin gue kencan




Gue beruntung banget bisa pacaran sama dia, secara dia itu seleb kampus dan di hari sabtu ceria ini dia sms ngajak gue kencan nanti malem jam 7, hihihi gue seneng banget









Gak lama dari situ hape gue berdering, kali ini telepon dari... dari dosen pembimbing gue
Ternyata beliau menanyakan surat yang dititipin sama gue kemaren, Gue kaget banget. Masalahnya gue lupa surat itu yang mana dan nyimpennya di mana... aduh kacau



Hmmm... kira-kira yang mana, ya.



Astaga... sumpah gue lupa banget, lama gue berpikir, nginget-nginget tuh surat yang mana. Akhirnya gue beranjak ke kamar.




Kalo gak salah gue simpen di folder "trijipi", Gue celingak-celingkuk depan laptop

Alhamdulillah ternyata ada. Di kamar gue yang sejuk gue sujud syukur karena gak lucu kalo sampe tuh surat hilang, bisa-bisa terancam posisi gue sebagai mahasiswa tingkat akhir. Apalagi pak Mahmud itu sedikit galak dan sensitif. Gue tenang banget, sambil rebahan di atas kasur gue senyum-senyum akhirnya gue tertidur pulas.



***




Sekitar dua jam kemudian..

Astagaaaaaaa.... 



20 panggilan tidak terjawab dari Pak Mahmud, oh no pasti beliau marah banget sama gue. Gue bisa bayangin wajah beliau yang bulet dan bergelembung itu kalo lagi marah. SERAM.




Selain 20 panggilan tidak terjawab dari pak Mahmud ternyata ada dua sms juga, dari beliau dan Cia. dua sms itu isinya buat gue galau. Pak mahmud minta surat itu dianter ke rumahnya jam delapan malam nanti sedangkan Cia cuma ngingetin biar gue gak telat kencan jam tujuah nanti. Mepet banget waktunya, mana antara rumah Cia dan Pak Mahmud itu jauh sekali, hiikkssss... gue bingung.. satu sisi gue takut banget sama pak Mahmud, satu sisi juga gue gak mau kencan pertama gue gagal.




Gue pikirin baik-baik. Berat masalah ini, berat guys. Seandainya aja pacar gue itu mukanya abstrak, gak akan seberat ini gue buat keputusan. Berhubung dia cantik aja. Untung-untung dia khilaf mau sama gue.


Akhirnya setelah berpikir lama, gue putusin buat ketemu Cia dulu, terus ajak dia ke rumah Pak Mahmud bentar, setelahnya baru deh gue sama dia kencan. hihihihi... oke, sekarang pikiran gue udah tenang. 


***




Menjelang malam, gue udah siap-siap, 
si Cumi (kucing kesayangan gue) juga sudah gue dandanin sekeren mungkin.
Jam di pergelangan tangan gue udah menunjukkan pukul 18.25




Lima menit kemudian gue berangkat, gak sabar banget buat ketemu pacar gue yang cantik.. hmmm kira-kira dia mau ngajakin gue kemana, ya.. jangan-jangan ke acara keluarga mau bagi-bagi harta warisan, hihihi... gue gak akan nolak. Sambil ngendarain vespa butut gue ngoceh sendiri.




Jalanan padet banget kalo malem minggu, sembari nunggu lampu merah gue ngaca-ngaca di kaca mobil orang, Sadis, gue udah kece badai gini, gue yakin Cia gak akan malu jalan sama gue. Udah lewat beberapa menit lampu merah belum juga berubah, bikin suasana jadi bete. Gak sengaja mata gue ngelirik jam, dan setelah mengamatinya dengan seksama... seketika gue ngerasa lagi dikejer tsunami, jantung gue berasa mau copot, gue lirik sekali lagi dengan mata yang disipit-sipitkan berharap jarum-jarum di situ gak salah tunjuk angka. oh my god gue gak salah liat lagi kali ini, ternyata tadi di rumah gue salah liat jam. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 19.55. Tiba-tiba terbayang wajah pak Mahmud keluar dari lampu merah sambil bawa golok yang mau dilemparkan ke arah gue. Muka gue mendadak kusut.



Sekarang pikiran gue cuma satu, gimana caranya sampe tempat pak Mahmud tepat waktu. Dengan penuh perjuangan gue berbalik arah, menerjang jalanan yang terasa semakin dingin. Dalam hati gue komat-kamit semoga bisa cepat sampai, gue gak mau ada masalah sama pembimbing gue. Dengan semangat gue tarik gas vespa butut yang sebenarnya tak layak pakai ini.


***


Akhirnya gue sampe di rumah pak Mahmud, tapi gue telat lebih dari satu jam.
Gue dimarahin abis-abisan. Ternyata surat yang dititipin sama gue ini adalah surat rekomendasi presentasi beliau. Karena pakai bahasa asing jadi gue gak ngerti.
Pak Mahmud nangis, gue juga nangis.
Dengan jari yang dilentik-lentikkan, beliau mengambil tisu dari dalam tasnya, mengelap air mata.
Gayanya ngelap mirip sama si banci-banci di Kambang Iwak.
Sisi sensitif pak Mahmud pun keluar.

"Hiks... kamu tega banget, Rido."

"Maaf, pak."

"Malam ini kacau gara-gara kamu, Do
seharusnya bapak bisa presentasi dan langsung
dinobatkan sebagai dosen terbaik se-Asia Tenggara."

"Saya benar-benar minta maaf, pak."

"Gak, Do, ini sakit banget, sakit, Do. Pokoknya buat kamu gak ada bimbingan skripsi sampai tahun tahun depan, biar impas karena malam bersejarah yang seharusnya jadi milik bapak malam ini cuma bisa terulang lagi tahun depan dan itu semua gara-gara kamu, Do."

"HOREEE, eh... maaf, pak maksud saya jangan, pak. Jangan pak, saya benar-benar minta maaf,
pak saya menyesal." gue ngesot-ngesot di lantai.

"Maaf, Do, tapi ini sangat menusuk hati bapak. Bapak terluka, Do terluka karena kamu."

Lalu pak Mahmud pun beranjak dari tempat duduk menuju
garasi. Gue kejer beliau, gue kecup dan pegang jari-jarinya 
minta maaf setulus hati. 

"Sudah, Do sudah. Semua maaf kamu udah gak berarti."

"Tapi, pak saya mohon maafin saya sekali ini."

"Sudahlah, Do semua sudah terlambat."
(jiiiaaahhh... kok jadi kayak telenovela)

Gak pantang nyerah gue tetep minta maaf,
berharap beliau cabut kata-katanya tadi yang
mau nahan skripsi gue sampe tahun depan

Tapi percuma, semua tak berguna terbuang sia-sia




Bener-bener hari yang menguras pikiran dan perasaan.
Skripsi gue ditahan. 
Gue lirik jam di tangan, sudah menunjukkan pukul 23.02. Gue memutuskan untuk pergi dari rumah Pak Mahmud, gue baru inget kalo ada janji sama Cia. Barulah gue hendak menghidupkan motor, 
tiba-tiba hape gue bunyi, dan kali ini kekuatan jantung gue lagi-lagi diuji dengan isi sms...





THE END







Leia Mais…

26 September 2012

Senja Hari Ini

Aku menaiki  ratusan anak tangga dan melewati beberapa lantai menuju tempat favoritku. Sedikit lelah namun aku terus bersemangat agar lekas sampai disana. Tak lama kemudian langkahku terhenti. Aku duduk di salah satu palang besi dari beberapa palang yang menyusun membentuk suatu menara. Ya aku sudah sampai di lantai puncak menara, di tempat favoritku. Yang menurut beberapa orang tidak layak dijadikan tempat favorit. Mereka bilang ini  horor, sedikit saja depresi, atau kemasukan setan , bisa-bisa langsung tergerak untuk melompat dan mati. Tapi terserah itu pendapat mereka.

Tinggi dan berbahaya, namun aku sangat menikmatinya. Dari sini aku bisa melihat cantiknya  matahari yang kembali ke peraduaannya saat senja mulai menguasai semesta, gerombolan burung  yang dengan gagahnya memamerkan sayap mengarungi angkasa. Terkadang membuatku sedikit iri, mereka terlihat bebas. Ditambah lagi dengan sapaan angin yang menyejukkan tubuhku saat aku merasakan gerah. Semuanya itu membuat aku betah berlama-lama di sini. Hampir setiap hari.

Dan Aku suka, Senja hari ini berbeda. Tampak terlihat lebih indah dari biasanya. Garis-garis jingga terlihat tegas membingkai langit angkasa, pancaran sinar matahari tenggelam yang masih terlihat sedikit bersinar namun malu-malu. Menambah kesan eksotis senja kali ini. Pemandangan yang menakjubkan.

Ku abadikan itu semua dengan kamera yang selalu menggelantung di leherku. Beberapa hasilnya terlihat sangat sempurna. Lalu kembali aku membidik dari sudut yang berbeda.

Namun sapaan seorang gadis memecahkan konsentrasiku.

Aku mengerutkan kening, mungkin aku terlalu berkonsentrasi sehingga tidak menyadari kehadirannya.

Wajahnya gadis ini cantik walaupun penampilannya terlihat sedikit berantakan. Memakai baju SMA yang tidak disetrika, rok abu-abu pias dan tipis serta sepatu yang sedikit robek di ujungnya. Ia bermata sendu dan riak air mukanya terlihat bersahabat. Dan benar terbukti saat kami mulai  bercakap.

Gadis ini sedari tadi memeluk buku. Sembari menatap kosong ke jalanan aspal nun jauh di bawah sana.

"Buku ini berjudul  from earth to heaven tanpa dituliskan siapa yang membuatnya" celoteh gadis itu. " Mungkin si pembuat tidak ingin ada yang tahu siapa  dia sebenarnya, haha bodoh ya" tambahnya.

Aku hanya tersenyum tipis, tanpa berkomentar sedikitpun.

"Dihalaman terakhir buku ini bercerita tentang seseorang yang ingin di cegah pergi, namun sayang tak ada yang peduli, tak ada yang mencegahnya. Lalu ia memutuskan untuk benar-benar pergi, kesana" bisik Gadis itu samar-samar sambil menunjuk ke atas langit.

Mataku mengikuti arah telunjuknya, langit terlihat makin indah. Senja semakin merah merona. beberapa menit kami mengamatinya, menikmatinya. Berfantasi dalam dunia masing-masing. Jarak tempat duduk kami yang berjauhan membuat angin berleluasa mengitari, memberi kesejukan. Lama kami berdiam

"Lalu apa yang ia lakukan di atas sana?" tanyaku memecah keadaan yang hening, tanpa mengalihkan sorot mata dari langit.

namun tak ada jawaban. hening.

ku alihkan pandanganku. Ke kiri..ke kanan.
namun tak kudapati sosok gadis itu.

Aku menghela nafas panjang sambil terpejam, dan mengalihkan pandangan mataku ke bawah.

Nafasku tertahan sejenak, nun jauh disana kudapati gadis itu terlihat sangat kecil, tergeletak bersimbah darah. Tanpa ada yang peduli.

Kudapati buku yang dipeluknya ada disampingku. Aku bawa dan segera bergegas turun menemui mayat gadis itu.

Tak lama berselang aku telah sampai di dekatnya. Wajah gadis ini memar. Darah segar mengalir di tiap cela tubuhnya yang luka, rok yang tersingkap membuat aku mengetahui bahwa kakinya patah.
keadaannya sangat mengenaskan.

kulirik lebel nama di pakaian seragamnya.
kosong.
tak ada satu hurufpun.

Lalu ku amati buku tanpa nama yang mungkin sengaja ia tinggalkan.

aahhh, aku terlambat membaca pesan-pesan darinya. Aku tidak bisa menangkap pertanda-pertanda yang sedari tadi ia berikan.

Tanpa terasa titik air mata menetes dari ujung mataku.

dan terdengar samar-samar suara berbisik..

"ingin di cegah pergi, namun sayang tak ada yang peduli, tak ada yang mencegahnya. Lalu ia memutuskan untuk benar-benar pergi, kesana. Di atas sana"


Aku terlalu menikmati senja hari ini,  sesalku.





Leia Mais…