Sabtu siang...
2 November 2012
Sabtu Malam Rido
26 September 2012
Senja Hari Ini
Aku menaiki ratusan anak tangga dan melewati beberapa lantai menuju tempat favoritku. Sedikit lelah namun aku terus bersemangat agar lekas sampai disana. Tak lama kemudian langkahku terhenti. Aku duduk di salah satu palang besi dari beberapa palang yang menyusun membentuk suatu menara. Ya aku sudah sampai di lantai puncak menara, di tempat favoritku. Yang menurut beberapa orang tidak layak dijadikan tempat favorit. Mereka bilang ini horor, sedikit saja depresi, atau kemasukan setan , bisa-bisa langsung tergerak untuk melompat dan mati. Tapi terserah itu pendapat mereka.
Tinggi dan berbahaya, namun aku sangat menikmatinya. Dari sini aku bisa melihat cantiknya matahari yang kembali ke peraduaannya saat senja mulai menguasai semesta, gerombolan burung yang dengan gagahnya memamerkan sayap mengarungi angkasa. Terkadang membuatku sedikit iri, mereka terlihat bebas. Ditambah lagi dengan sapaan angin yang menyejukkan tubuhku saat aku merasakan gerah. Semuanya itu membuat aku betah berlama-lama di sini. Hampir setiap hari.
Dan Aku suka, Senja hari ini berbeda. Tampak terlihat lebih indah dari biasanya. Garis-garis jingga terlihat tegas membingkai langit angkasa, pancaran sinar matahari tenggelam yang masih terlihat sedikit bersinar namun malu-malu. Menambah kesan eksotis senja kali ini. Pemandangan yang menakjubkan.
Ku abadikan itu semua dengan kamera yang selalu menggelantung di leherku. Beberapa hasilnya terlihat sangat sempurna. Lalu kembali aku membidik dari sudut yang berbeda.
Namun sapaan seorang gadis memecahkan konsentrasiku.
Aku mengerutkan kening, mungkin aku terlalu berkonsentrasi sehingga tidak menyadari kehadirannya.
Wajahnya gadis ini cantik walaupun penampilannya terlihat sedikit berantakan. Memakai baju SMA yang tidak disetrika, rok abu-abu pias dan tipis serta sepatu yang sedikit robek di ujungnya. Ia bermata sendu dan riak air mukanya terlihat bersahabat. Dan benar terbukti saat kami mulai bercakap.
Gadis ini sedari tadi memeluk buku. Sembari menatap kosong ke jalanan aspal nun jauh di bawah sana.
"Buku ini berjudul from earth to heaven tanpa dituliskan siapa yang membuatnya" celoteh gadis itu. " Mungkin si pembuat tidak ingin ada yang tahu siapa dia sebenarnya, haha bodoh ya" tambahnya.
Aku hanya tersenyum tipis, tanpa berkomentar sedikitpun.
"Dihalaman terakhir buku ini bercerita tentang seseorang yang ingin di cegah pergi, namun sayang tak ada yang peduli, tak ada yang mencegahnya. Lalu ia memutuskan untuk benar-benar pergi, kesana" bisik Gadis itu samar-samar sambil menunjuk ke atas langit.
Mataku mengikuti arah telunjuknya, langit terlihat makin indah. Senja semakin merah merona. beberapa menit kami mengamatinya, menikmatinya. Berfantasi dalam dunia masing-masing. Jarak tempat duduk kami yang berjauhan membuat angin berleluasa mengitari, memberi kesejukan. Lama kami berdiam
"Lalu apa yang ia lakukan di atas sana?" tanyaku memecah keadaan yang hening, tanpa mengalihkan sorot mata dari langit.
namun tak ada jawaban. hening.
ku alihkan pandanganku. Ke kiri..ke kanan.
namun tak kudapati sosok gadis itu.
Aku menghela nafas panjang sambil terpejam, dan mengalihkan pandangan mataku ke bawah.
Nafasku tertahan sejenak, nun jauh disana kudapati gadis itu terlihat sangat kecil, tergeletak bersimbah darah. Tanpa ada yang peduli.
Kudapati buku yang dipeluknya ada disampingku. Aku bawa dan segera bergegas turun menemui mayat gadis itu.
Tak lama berselang aku telah sampai di dekatnya. Wajah gadis ini memar. Darah segar mengalir di tiap cela tubuhnya yang luka, rok yang tersingkap membuat aku mengetahui bahwa kakinya patah.
keadaannya sangat mengenaskan.
kulirik lebel nama di pakaian seragamnya.
kosong.
tak ada satu hurufpun.
Lalu ku amati buku tanpa nama yang mungkin sengaja ia tinggalkan.
aahhh, aku terlambat membaca pesan-pesan darinya. Aku tidak bisa menangkap pertanda-pertanda yang sedari tadi ia berikan.
Tanpa terasa titik air mata menetes dari ujung mataku.
dan terdengar samar-samar suara berbisik..
"ingin di cegah pergi, namun sayang tak ada yang peduli, tak ada yang
mencegahnya. Lalu ia memutuskan untuk benar-benar pergi, kesana. Di atas sana"
Aku terlalu menikmati senja hari ini, sesalku.
















